Showing posts with label Siroh. Show all posts
Showing posts with label Siroh. Show all posts

Istiqamah

Posted by Unknown Saturday, November 9, 2013 0 comments
Musibah datang secara beruntun, usaha selalu berujung pada kegagalan dan ditempat kerja diserang banyak fitnah. Rumah tangga tidak pernah berhenti dari percekcokan, bahkan berakhir dengan perceraian. Inilah keadaan yang lazim kita temukan dalam keseharian kita, atau terkadang kita sendiri yang mengalaminya.
Hal yang tidak bisa dibantah adalah keadaan ini, pasti berpengaruh terhadap sikap keberagamaan kita. Bagi yang rusak akidahnya maka akan menambah jarak yang jauh bahkan semakin jauh dengan Allah SWT. Tapi, jika sedang bagus akidahnya maka dia akan bersegera mendekat kepada-Nya.
Namun yang perlu diperhatikan saat kita berada dekat dengan Allah SWT adalah konsistensi. Jangan sampai ibadah  dan pertaubatan kita terkesan hanya dilakukan kalau sedang butuh, sedang saat dilanda musibah, atau sedang disempitkan dengan ujian dan kesusahan, kita jauh dari-Nya.
Peribadatan kita seakan temporal (sesaat). Sementara kalau sudah kembali normal, kemampuan mendekat dan bersenang-senangnya bersama Allah SWT malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat;shalat wajib tepat waktu,tahajud tampak khusyuk. Tapi, anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat.
Ini perbuatan yang jelas menipu dan mengecewakan Allah SWT dan malaikat. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dan semakin Istiqamah. Atau, ketika menjadi imam shalat, bacaan Al-Qur'an kita kadangkala digetarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih, Tapi, sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita laksanakan kilat, ringkas dan cepat.
Kalau shalat sendirian dia begitu gesit (cepat), tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Yang jelas diharapkan adalah kemampuan istiqamah dan konsistensi dalam ibadah dan amaliah.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,"Tuhan kami adalah Allah,"kemudian mereka meneguhkan istiqamah mereka, maka malaikat (kuasa llahi) akan turun kepada mereka dengan mengatakan,"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperolah surga yang  telah dijanjikan Allah kepadamu."(QS Fushilat (41):30).
Nabi Muhammad SAW bersabda,"Istiqamahlah kamu dan janganlah menghitung-hitung (amal ibadahmu)." (HR Bukhari).
Dari Abu Amr atau Abu Amrah RA, Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi RA berkata, aku berkata,"Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain padamu."
Rasulullah menjawab,"Katakanlah saya beriman kemudian istiqamahlah."(HR Muslim).

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Orang-orang Asing yang Beruntung

Posted by Unknown Thursday, October 31, 2013 0 comments
Akan ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan, Akan ada masa tatkala menunaikan keta'atan kepada Allah Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Teringatlah kita kepada sabda Nabi SAW "Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang asing." (HR Muslim).
Jika telah tiba masanya, yang sungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah SAW, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa ummat. Tapi sebagian besar manusia mengingkari. Hanya sedikit sekali manusia yang mendengar kata-katanya dan mengikuti apa yang dinasehatkannya.
Inilah masa ketika petunjuk yang terang dari nash (Al Qur'an & Sunnah) diabadikan. Nash diambil bukan untuk dalil, tapi untuk pembenaran. Inilah masa ketika orang banyak yang beramal  berdasarkan perkataan-perkataan orang yang pandai bicara, meski nyata bertentangan dengan nash. Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api. Nasehat Nabi Muhammad SAW :"Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api."(HR. Tirmidzi).
Agama ini terasing dari umat Islam, di antaranya bersebab semakin sedikitnya orang yang memberi nasehat dan peringatan. Inilah masa ketika majelis agama tak lagi memberi ilmu, nasehat dan peringatan. Bahkan keluh lidah para penceramah dari memperingatkan.
Inilah masa ketika orang-orang yang dijadikan anutan tak lagi memiliki muru'ah (kehormatan, wibawa). 'Izzah (harga diri, kehormatan) dahwah runtuh. Keduanya ditukar dengan tana'um (bermewah-mewah sebagai gaya hidup). Inilah masa ketika wahan (cinta dunia takut mati) dan waham merasuk kuat, seakan muru'ah hanya tegak dengan kemewahan dan penampilan. Inilah masa ketika majelis agama berubah menjadi hiburan dan senda gurau; memberi kesenangan tanpa menumbuhkan ketaqwaan.
Manusia berlomba memegah-megahkan masjid melebihi peruntukannya. Banyak yang ramai oleh manusia, tapi kosong dari hidayah. Yang seharusnya memberi nasehat dan peringatan tak memiliki 'izzah agama dalam dirinya, sehingga sibuk menampakkan diri menarik. Ia mengikuti mustami'in (audiens) dan tak berani menyampaikan perkara-perkara yang menyelisihi selera mustami'in. Hanya ada penuturan, tanpa peringatan. Banyak menahan nasehat bersebab senantiasa anggap ummat tidak siap, tapi tak pernah mempersiapkan mereka.
Adakah ini terjadi? Semoga belum. Ataukah ini masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas'ud? Masa ketika orang bertekun mendalami agama untuk dunia. Mereka bersemangat mendalami agama bukan untuk kepentingan agama, tetapi untuk meraup dunia.
Renungkanlah perkataan mulia 'Ali bin Abi Thalib ra sebagai diriwayatkan oleh Al-Hakim:
Diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian 'Umar bin Khattab ra berkata kepadanya,"Kapankah itu terjadi, wahai 'Ali?" 'Ali bin Abi Thalib ra menjawab: "Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat." (Riwayat A-hakim).
Perhatikanlah sejenak penjelasan menantu kesayangan Rasulullah SAW ini. Betapa berbedanya, di masa sahabat ra, mereka mencari kehidupan dunia untuk akhirat. Sementara di zaman fitnah, kehidupan dunia di cari bukan kepentingan akhirat. Bahkan sebagaimana diperingatkan oleh Ibnu Mas'ud ra, pada masa fitnah agama tersebut, manusia justru mengejar dunia dengan amal akhirat. Maka, kelak kita akan saksikan orang bersungguh-sungguh melaksanakan sholat Dhuha maupun sedekah karena ingin mengejar dunia. Seakan Allah Ta'ala tak akan melimpahkan harta kepada kita jika meminta sebelum melakukan keduanya. janganlah kita sebagai manusia yang tak putus mengerjakan sholat Dhuha, tapi Sholat Fadhunya diletakkan di belakang.  

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Kepasrahan yang Menggerakkan

Posted by Unknown Monday, October 14, 2013 2 comments
Jika Allah Ta'ala sudah menitahkan suatu perkara untuk terjadi, maka tak ada yang dapat mencegahnya, Tak ada pula yang dapat memajukan atau menunda. Sesungguhnya takdir yang telah digariskan oleh Allah 'Azza wa Jalla mengikat setiap makhuk-Nya, sehingga seandainya seluruh tenaga kita kerahkan dan segenap kemampuan kita gunakan, tak akan pernah sanggup menggeser takdir itu dari keputusan-Nya. Maka, apakah yang bisa kita lakukan untuk menolak takdir?
Tetapi Allah dan Rasul-Nya telah memberikan petunjuk kepada kita. Segala sesuatu ada hukum yang telah Allah Ta'ala tetapkan untuk mengaturnya. Maka, hukum itulah yang perlu kita ketahui. Berkenaan dengan takdir, nasehat Rasulullah SAW kepada Ibnu 'Abbas ra perlu kita simak dengan baik. Ketika itu Ibnu 'Abbas masih kanak-kanak yang baru mengerti. Kata Rasulullah SAW., sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: "Wahai Anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. jagalah hak-hak Allah niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu.
Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah pada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mempu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering."(HR. At-Tarmidzi).
Inilah sikap terhadap takdir yang diajarkan Rasulullah SAW kepada kita. Karenanya, kita harus membangun sikap tersebut dalam diri kita dan terutama kepada anak-anak kita. Jika anak telah yakin bahwa lembaran takdir telah kering dan tak ada yang bisa menolong dengan sebak-baik pertolongan selain Allah 'Azza wa jalla, maka apa lagikah yang lebih baik dalam membangun keyakinan diri? Jika anak-anak yakin betul bahwa andaikata seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakannya, maka tak ada musuh yang ia takuti dan tak ada makhluk selemah apa pun yang berhak ia rendahkan. Ia memiliki percaya diri yang kuat bukan karena kelebihan yang ada pada dirinya, tetapi karena keyakinanannya yang kuat kepada Allah 'Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa. Kepercayaan diri semacam inilah telah mengubah Abu hurairah ra dari ahlu suffah menjadi seorang yang diakui kompetensinya. Ia menjadi rujukan yang terpercaya.
Berawal dari sikap yang benar terhadap takdr, kita bisa berharap lahirnya anak-anak yang kuat memegangi prinsip, kokoh pendiriannya, kuat keyakinannya kepada Allah SWT beserta segala yangdituntunkan-Nya serta memiliki integritas pribadi yang kuat. Sungguh, rusaknya masyarakat bukanlah terutama dari tidak adanya para pemimpin yang perkasa maupun ulama yang matang ilmunya, tetapi terutama dar tidak adanya integritas pribadi. Padahal integritas itulah yang membuat seseorang layak dipercaya dan bisa diandalkan.
Sikap yang tepat terhadap takdir mengantarkan anak untuk jujur dan mandiri. Sebab, dusta tak bisa membuatnya memperoleh manfaat. Sementara ketergantungan pada pertolongan orang lain tak membawanya pada kemudahan. Ia belajar menempa diri untuk tidak berharap selain kepada Allah 'Azza wa Jalla. Jika ia menjadi manusia yang memperoleh jaminan penjagaan dari Allah, maka Allah Ta'ala pasti akan kiimkan hamba-hamba-Nya dari malaikat dan manusia untuk menjadi penolong ketika ia sedang memerlukan pertolongan. Para manusia menjadi penolong karena Allah Ta'ala yang menggerakkan mereka.
Melalui pembentukan sikap yang benar terhadap takdir sesuai tuntunan Rasulullah SAW, kita bisa berharap akan lahir para pemberani yang perkasa untuk memimpin dunia. Mereka perkasa justru karena kepasrahannya terhadap setiap ketentuan-Nya.
Inilah yang sekarang perlu kita pikirkan. Sudah saatnya kita mengubah cara kita membangun kepribadian anak, Percaya diri yang kokoh sudah seharusnya lahir dari iman yang kuat. Salah satunya iman kepada takdir.
Sesungguhnya sebaik-baik sumber percaya diri adalah iman, bukan drum band.    

Semoga Bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....

Bershalawat

Posted by Unknown Saturday, October 12, 2013 0 comments
Jangan meninggalkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. "Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. "(QS.33:56).

Rasulullah SAW bersabda : Apabila kamu mendengar adzan, maka katakanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin, kemudian bershalawatlah atasku, karena barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali, maka Allah akan akan bershalawat atasnya sepuluh kali, kemudian mohonlah kepada Allah untukku wasilah karena wasilah adalah kedudukan di surgayang tidak layak, kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan saya sungguh berharap menjadi orang yang mendapatkannya, dan barang siapa memohonkan untukku wasilah, maka dia akan mendapatkan syafa'at.(HR. Muslim).

Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari jumat. Di hari itu Adam AS diciptakan, dan di hari itu dia meninggal. Di hari itu ditiupnya sangkakala (tiupan pertama yang pada waktu itu alam semesta menjadi hancur), di hari itu terjadi matinya semua makhluk (kecuali yang dikehendaki Allah). Oleh karena itu perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu, karena shalawat kamu ditampakkan kepadaku. Para sahabat berkata : Wahai utusan Allah! Bagaimana ditampakkan kepadamu shalawat kami, padahal engkau sudah hancur luluh? maka Rasulullah SAW menjawab : Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi jasad para Nabi SAW (HR. Abu Daud, dan telah dishalihkan oleh An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin, dan Syaikh Albani dalam shahihil Jami').

Juga Rasulullah berkata : Tiada seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan kepadaku ruhku sehingga aku membalas salam tersebut.(HR. Abu Daud, dan dishalihkan oleh An-Nawawi dan Albani dalam kitab shahihil al-Jami').

Untuk itu jika ketika kita mendengar nama Nabi Muhammad disebut di mana pun kita berada dan mendengarnya maka bershalawatlah, Shallallahu Alaihi Wassalam.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Kemerdekaan

Posted by Unknown Monday, September 30, 2013 1 comments
Ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya,"Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kamu, dan jadikan oleh-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain." (QS. Al-Maidah(5):20).
Kemerdekaan adalah anugerah Allah kepada setiap pribadi. Ketika salah seorang anak Gubernur Mesir menampar seorang rakyat jelata yang kemudian pergi mengadu kepada Umar bin Khatab, sang khalifah  itu mengencam gubernurnya sambil berkata "sejak kapan kalian memperbudak manusia, pada hal ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka."
Kemerdekaan bagi seseorang atau satu bangsa adalah kepemilikan wewenang dan kemampuan pengaturan, terhadap diri sebagai individu dan terhadap kelompok sebagai kesatuan masyarakat bangsa. Tapi bukan hanya itu! Abu Daud meriwayatkan sabda Nabi SAW yang melukiskan seorang merdeka sebagai "Siapa yang memiliki rumah, dan pembantu". Tentu saja makna kata 'pembantu' harus disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Kini ia dapat berarti alat-alat yang membantu/mempermudah seseorang memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian kemerdekaan bukan sekedar wewenang dan kemampuan pengaturan, tetapi juga kesejahteraan hidup. Kemerdekaan sering dipersamakan dengan kebebasan, yakni kebebasan dari penjajahan lahir dan batin, bukan kebebasan mutlak. Kebebasan mutlak mustahil bagi manusia, karena ini berarti mengingkari hukum, tujuan, keinginan atau ide. Itu mustahil karena keadaan demikian, menjadikan manusia keluar dari hakikat kemanusiannya. Mereka yang menghendaki kehidupan sebebas mungkin, dan melepaskan diri dari ikatan apa pun, pasti hidupnya pun dilandasi oleh keyakinan/ide tertentu. Usahanya itu menunjukkan bahwa ia pada hakikatnya, suka atau tidak suka, menerima wewenang pengaturan yang bersumber dari keyakinan atau ide yang ada dalam benaknya. Ini berarti ia tidak bebas secara mutlak. Ia dimiliki/diatur oleh sesuatu. Karena itulah maka kebebasan mutlak tak mungkin wujud, dengan kata lain harus ada pembatasan antara lain hukum yang perlu dipatuhi. Apalagi manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup tanpa bantuan pihak lain. Memang semakin sedikit kebutuhan kepada pihak lain, perorangan atau kelompok, semakin tinggi kualitas kemerdekaan.
Pribadi merdeka menurut Al-Ghazali adalah yang tidak membutuhkan kecuali Allah, dan dalam saat yang sama dia menguasai kerajaannya yakni 'bala tentara dan rakyat' yang dimilikinya tunduk dan taat kepadanya. Kerajaan setiap individu adalah kalbu dan wadah kalbunya. Bala tentaranya adalah syahwat, amarah dan nafsunya. Rakyatnya adalah lidah, mata,tangan, dan seluruh anggota badannya. Bila semua itu tidak dikuasai dan tidak menguasainya, menaatinya dan bukan dia taat kepadanya, maka ketika itu ia telah mencapai tingkat kemerdekaan di alamnya.
Ketika salah seorang penguasa berkata kepada seorang arif, "Mintalah apa yang engkau butuhkan." Sang arif menjawab,"Apakah kepadaku engkau berkata demikian, pada hal aku mempunyai dua orang hamba yang keduanya adalah tuanmu?" "Siapa mereka?" tanya sang penguasa."Mereka adalah ketamakam dan hawa nafsu. Keduanya telah kukalahkan namun keduanya mengalahkanmu, keduanya pula telah kukuasai tetapi keduanya menguasaimu."
Demikan juga lebih kurang halnya dengan satu bangsa. Ia harus mandiri, menguasai, dan mengatur wilayahnya, serta tidak memiliki banyak ketergantungan kepada selainnya. Masyarakatnya pun tunduk pada hukum dan peraturan. Itulah makna kemerdekaan sejati.

  Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Kerendahan Hati

Posted by Unknown Saturday, September 14, 2013 2 comments
Kerendahan hati ialah sifat yang dapat membebaskan seorang dari ikatan kedudukan atau martabat yang tinggi, dan membawanya ke tingkat yang sejajar dengan orang lain. Kerendahan hati ialah anggapan seseorang bahwa dirinya tidak ada kelebihannya, dibanding dengan yang lain karena kedudukan yang ada padanya. Abu Zaid berkata: bila seseorang masih beranggapan, ada manusia lain yang lebih buruk daripadanya, maka ia adalah orang yang sombong. Ketika ditanya, bilakah seorang itu dapat dinilai sebagai orang yang rendah hati? Maka jawabnya:"Kalau ia sudah tidak lagi memandang tinggi ucapan dan kedudukannya".
Al Hikam mengatakan:"Bukanlah sekali-kali orang-orang rendah hati itu, yang menilai bahwa dirinya telah berbuat sesuatu melebihi yang lain, tapi rendah hati itu, yang beranggapan, bahwa apa yang dikerjakan olehnya itu masih serba kurang". Dan rendah hati itu, adakalanya, karena kesadaran dan keinsafan yang tumbuh dalam hati seseorang. Maka dengan hati nuraninya melihat dengan nyatanya akan keagungan dan kebesaran Tuhannya. Itulah sifat rendah yang hakiki, dan tiada yang mengatasi. Adakalanya pula, karena keinsafan seseorang akan kelemahan dan keapesan dirinya; yang pertama dapat memadamkan gejolak nafsu yang angkara murka dan menghapus egoisme, serta menjebol habis rasa bangga dan sombong dari hati seseorang, sedangkan yang kedua akan membawa seorang ke tingkat derajat yang mulia dan terpuji.
Dan kerendahan hati Nabi Muhammad SAW adalah teladan tertinggi dan sempurna, yang patut dicontoh dan diikuti. Albukhary meriwayatkan dari Umar bin Khattab, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:"Janganlah kalian memuji dan memujaku berlebih-lebihan seperti orang Nasrani berbuat terhadap Isa putra Maryam. Aku ini adalah hamba juga, maka katakanlah kepadaku, hamba Allah dan rasulnya". Bahwa Nabi Muhammad sebagai hamba dan Rasulullah itu, bukan berarti adanya persamaan beliau dengan yang lain dalam pengabdian dan darma baktinya kepada Tuhan, Sekali-kali bukan demikian. Karena beliau dalam hal ini, manusia yang paling sempurna dan itulah pula hakikat dari pada kesempurnaan insani.
Tatkala Allah menawarkan pilihan kepada Nabi Muhammad SAW apakah beliau ingin sebagai hamba dan nabinya, atau sebagai nabi dan raja (seperti Sulaiman) maka beliau memilih yang pertama, justru karena kerendahan hatinya. tentang ini, Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Jibril datang kepada Nabi SAW dan tak lama turun malaikat yang sejak dijadikan Allah belum pernah turun ke bumi. Kemudian malaikat tadi berkata kepada Rasulullah:"Ya Muhammad, Tuhanmu mengutusku untuk menyampaikan pilihan kepadamu apakah engkau ingin dijadikan raja, ataukah hamba dan rasulnya, maka Nabi SAW menjawab tegas:"Aku adalah hamba dan rasul-Nya".
Contoh dari kerendahan hati Rasulullah, An Nasa'y meriwayatkan, Nabi SAW tidak segan-segan berjalan bersama janda tua atau orang miskin untuk menolongnya, menyampaikan keperluan dan hajatnya. Nabi SAW bila datang menjenguk orang sakit, duduk di dekat kepalanya menghibur hatinya, bertanya dengan lemah lembut dan kadang-kadang meletakkan tangannya di tempat yang terasa sakit, sambil berdoa: "Mudah-mudahan Allah lekas menyembuhkannya". Dalam riwayat yang lain, Anas berkata: Rasulullah SAW adalah yang paling dicintai oleh sahabatnya. Namun bila mereka melihatnya datang tidak satu pun yang bangun berdiri, karena yang demikian itu tidak disukai olehnya. Itu tidak lain karena kerendahan hati beliau dalam pergaulan bersama. Sedangkan berdiri tegak dengan khusyuknya hanya untuk Tuhan Rabbul 'Aalamin.
Imam Ahmad at Tirmidz dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW bersabda:"Seandainya aku diberi oleh seseorang kaki kambing, aku akan menerimanya, atau aku diundang untuk memakannya, aku pun tidak menolak". Dalam rumah tangga kerendahan hati Rasulullah pun terlihat, Aisyah istrinya berkata: Dalam rumah tangga Rasulullah SAW seperti manusia lainnya, beliau menjahit atau menambal bajunya sendiri. Memeras susu kambingnya dan menyiapkan sendiri segala apa yang diperlukan sampai-sampai memperbaiki sandalnya yang rusak. Hadist ini dengan jelas menunjukkan betapa kerendahan hati beliau, sekaligus mencerminkan pandangan terhadap kemewahan hidup yang baginya pribadi dinilainya sangat remeh dan sepele. Apa yang di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih abadi. Nabi tidak suka dipuji dan puja secara berlebih-lebihan yang bisa membawa kepada kesesatan seperti halnya orang-orang Nasrani terhadap Isa Bin Maryam. Nabi SAW selalu menyampaikan hajat dan keperluan siapa saja yang datang kepadanya baik laki-laki maupun perempuan. Serta memegang teguh rahasia  orang yang datang mengadukan kepada ihwalnya dan mencurahkan semua isi hatinya, di samping beliau sendiri menyembunyikan dan tidak pernah mengadukan kepada sahabat penderitaan, kekurangan, atau kebutuhan hidup diri dan keluarganya, sehingga menggadaikan kepada seorang Yahudi karena utang tiga puluh liter beras merah untuk keperluan rumah tangga.

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Shalawat

Posted by Unknown Friday, September 13, 2013 1 comments
Di antara kiat sukses adalah mengikuti dan meniru cara yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah sukses. Dengan begitu, Insya Allah kesuksesan juga akan bisa kita raih. Dalam hal shalawat, tidak tanggung -tanggung, yang kita contoh adalah Allah SWT dan para malaikat-Nya. (QS. Al-Ahzab (33):56).
Subhanallah, Jika kita mau bershalawat untuk Nabi SAW, maka kita telah meniru apa yang dilakukan Allah dan malaikat-Nya. Inilah pesona shalawat. Kesuksesan apa yang akan kita raih?
Allah yang Maha Kuasa, yang di tangan-Nya segala kesuksesan, keselamatan, kemuliaan, kehormatan, telah memerintahkan kita selaku hamba-Nya untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yakni manusia yang paling dicintai-Nya. Dan, masya Allah, Allah melakukan hal itu; bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Tabarakallah. Mahasuci Allah yang telah meninggikan nama Nabi Muhammad, sehingga tidak disebut La ilahaillallah, tanpa Muhammad Rasulullah. Allah "menyejajarkan","menyandingkan" nama-Nya yang Mahaagung dan Mahamulia, dengan nama Nabi Muhammad di dalam kalimat tauhid, kalimat syahadat.
Masya Allah, ingin menangis rasanya. Ya Rasulullah, izinkan kami (umatmu ini) bershalawat untukmu."Allahumma shalli wa sallim wa barik'ala Sayyidina Muhammad wa'alaalihi wa dzurriyyatihi, wa ashhabihi wa ummatihi."
Silahkan, mau pakai Sayidina, boleh. Nggak pakai, juga boleh. Tapi, sebaiknya pakai Sayyidina, sebagai bentuk penghormatan kita untuk membedakan menyebut namanya dengan manusia lain.
Sungguh, jika mau segala kemudahan dan kesuksesan, perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah SAW. Semakin rutin dan banyak jumlahnya, maka akan semakin baik. Dengan begitu, shalawat akan menjadi salah satu pakaian amal kita sehari-hari.
Banyak itu kira-kira minimal 100 kali dalam sehari. Kalau masalah yang dihadapi lagi berat, dan kebutuhan banyak, maka perbanyaklah lagi bershalawat. Kalau perlu hingga 1.000 kali dalam sehari atau lebih.
Jika yang demikian itu rutin kita lakukan, sering kita baca, misalnya 40 hari atau 100 hari tanpa putus, Insya Allah, segala kemudahan akan menyertai kita, Cobalah, Saudara tidak akan rugi.
Jika sudah merasa ada kemajuan, maka teruskanlah bershalawat dalam setiap kesempatan. Dan jika belum, teruslah mencoba dengan sepenuh keyakinan dalam menjalankan amalan yang juga dilakukan Allah dan malaikat-Nya ini.
Insya Allah, Saudara akan merasakan manfaatnya. Apalagi, jika kita juga melakukan amal-amal saleh dari amalan-amalan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, niscaya shalawat itu akan lebih bermakna dan bertenaga.
Shalawat paling pendek, Shallallahu 'ala Muhammad. Dan di antara shalawat yang paling keren adalah shalawat yang dipakai dalam tahiyyat akhir saat shalat, yakni Shalawat Ibrahimiyyah.
Di situ, kita juga menyebut Nabi Ibrahim AS, sang kekasih Allah. Semoga kita yang hina ini, selalu di izinkan Allah SWT untuk beramal dengan amalan-Nya, yakni bershalawat. Amin..


Semoga Bermanfaat
  

Baca Selengkapnya ....

Sikap Rasulullah SAW

Posted by Unknown Thursday, September 12, 2013 1 comments
Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW diceritakan memiliki kedekatan hubungan dengan fakir miskin, termasuk anak-anak yatim. Bahkan, ketika masuk sebuah pertemuan, Rasulullah SAW memilih duduk dalam kelompok orang-orang miskn.
Rasulullah bersabda,"Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah akan mendandani atau menghiasinya pada hari kiamat. Allah mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga."
Suatu ketika, pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW seperti biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga. Dalam kunjunganya itu, beliau melihat semua orang bahagia. Anak-anak bermain dengan mengenakan pakaian hari raya. Namun, tiba-tiba pandangan Rasulullah SAW tertuju pada seorang anak kecil yang sedang duduk bersedih.
Anak kecil ini memakai pakaian yang lusuh dan penuh tambalan, serta memakai sepatu yang telah rusak. Rasulullah SAW lantas bergegas menghampirinya. Melihat kedatangan Rasulullah SAW, anak kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya di atas kepala anak kecil itu dan dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya, "Anakku, mengapa kamu menangis?Hari ini adalah hari raya bukan?"
Anak itu menjawab,"Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakan bersama orangtuanya dengan bahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia bertarung bersama Rasulullah bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?" 
Mendengar cerita itu, seketika hati Rasulullah SAW diliputi kesedihan. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala anak kecil dan berkata,"Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?"
Anak kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat dihadapannya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya dapat mengangukkan kepalanya sebagai tanda menerima tawaran Rasulullah SAW, Kemudian, anak kecil itu bergandengan tangan dengan beliau menuju ke rumah.
Sesampainya di rmah, wajah dan kedua tangan anak kecil itu lalu dibersihkan. Ia kemudian diberi pakaian yang indah dan makanan, serta uang. Lalu ia diantar keluar agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Sikap Rasulullah SAW ini menunjukkan Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial.


Semoga Bermanfaat
   

Baca Selengkapnya ....

Perbuatan

Posted by Unknown Thursday, September 5, 2013 1 comments
Kita tahu dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang diturunkan ke bumi untuk mengajar umat manusia, bagaimana menjadi orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Cara mengajar Rasulullah itu, yaitu dengan keteladananyang mudah dicontoh oleh umatnya. Seandainya Rasulullah hanya memerintahkan dan menyuruh saja, pastilah umat akan kebingungan untuk mengamalkannya. Karena itu, oleh Allah kerasulan Nabi Muhammad SAW itu disempurnakan dengan sikap "Uswah Hasanah,"yaitu teladan dalam kebaikan. Karena pribadi Rasulullah adalah teladan kebaikan, maka umat tinggal meniru saja. Maka, kita semua yang beragama Islam dalam melakukan syariat agama tidak lain adalah mencontoh Rasulullah SAW. Selain keteladanan, Rasulullah disempurnakan lagi oleh Allah dengan kefasihan lisan yang dalam bicara dan menerangkan sesuatu mudah dimengerti dan jelas.

Dalam tubuh manusia paling tidak ada beberapa unsur, yaitu fikiran yang bisa dikembangkan untuk memperluas wawasan dalam membedakan yang benar dengan yang salah, yang berguna dengan yang sia-sia, serta wawasan keilmuan lainnya. Kemudian ada kalbu, untuk merasakan cinta kasih sayang sesama manusia, serta merasakan keindahan semua yang kita lihat dan kita alami di dunia ini. Rasa cinta kasih dan keindahan itulah yang bisa kita gunakan untuk menciptakan atmosfer damai dan rukun di dunia ini. Kelembutan jiwa yang dekat dengan Allah akan mudah untuk merasakan nikmat dan bahagia.

Jika yang benar dan yang indah telah menyatu, tinggal semangat untuk dipacu dalam kccenderungan jiwa untuk menuju kebaikan dan kebenaran. Inilah hidup yang bermakna dan bernilai.
Jika wawasan keindahan minus, kasih sayang dan keindahan juga minus, semangat untuk menuju kebaikan dan kebenaran sudah tidak ada, apa bedanya hidup ini dengan binatang. Sebagai makhluk yang mulia dengan akal pikiran yang sehat, setiap manusia punya tugas untuk menjaga jiwanya untuk tetap stabil agar bisa istiqomah untuk selalu menempuh jalan"Shiratul Mustaqim," yaitu jalan "Sunnah"yang dicontohkan Rasulullah.
Unsur-unsur kebaikan yang disebutkan di atas itu sebenarnya sudah terdapat dalam agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dengan kasih sayang yang utuh, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad,"Tidak beriman seseorang kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri."

Manusia adalah makhluk yang termulia di dunia ini. Tidak ada makhluk lain selain manusia yang punya kemampuan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti manusia. Namun capaian dan prestasi kemajuan teknologi yang hebat dan canggih, ada nilai ukuran bagi kemuliaan manusia itu, yaitu kemampuan dalam menghargai manusia dan kemanusiaan. Artinya kemajuan yang luar biasa itu tidak boleh menyakiti da merugikan manusia lain. Jika melukai hati dan merugikan manusia, maka kemajuan yang canggih itu menjadi tidak ada artinya. Melukai, merugikan, menipu dan menindas orang lain itu bentuk akhlak yang rendah yang identik dengan kebinatangan. Manusia yang bertindak kejam, berarti telah merendahkan dirinya sendiri.
Diturunkannya perintah puasa kepada umat Islam agar manusia itu bisa menjaga kemanusiaannya dengan akal yang sehatnya dan tetap hidup dengan perangai mulia sesuai dengan aturan-aturan Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dengan puasa manusia harus membersihkan dirinya dengan perangai-perangai tercela (nafsu batiniyah/kebinatangan). Puasa adalah untuk membangun kesadaran kemanusiaan yang utuh serta kesadaran kemakhlukan yang menyadari bahwa dirinya akan mulia kalau berakhlak dengan kemanusiaan serta mematuhi Dzat Maha Agung yang menciptakan langit dan bumi. Inilah derajat ketaqwaan yang dikehendaki Allah.
Untuk mengukur derajat ketaqwaan dan kemuliaan itu ialah dengan mempelajari tingkah laku/ajaran Nabi Muhammad SAW. Kalau hidup ini jauh berbeda dengan yang diteladankan Rasulullah, berarti jauh pula diri ini dari ketaqwaan dan kemuliaan. Jika seseorang berhasil melakukan apa yang dicontohkan Rasulullah berarti orang itu sudah berada dalam pangkat taqwa dan mulia.
Dengan demikian iman itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Dalam salah satu hadist Rasulullah bersabda: Yang disebut iman itu bukan berangan-angan. Tetapi iman itu ialah sesuatu yang disimpan dalam hati dan (harus) dibuktikan dengan perbuatan.

Taqwa ialah mengutamakan berbuat yang baik dan benar, bukan hanya berkhayal-khayal yang tidak ada bukti perbuatan. Orang tidak perlu berkhayal masuk surga, tapi kalau perbuatan dan tingkah lakunya sesuai dengan ajaran dan keteladanan Rasulullah, Insya Allah akan meraup "Ridha" Allah. Islam adalah agama amal. Selembar uang yang disedekahkan kepada orang miskin tak akan hilang percuma. Uang itu nanti di akhirat akan menjemput yang menyedekahkannya dalam bentuk yang sangat indah. Insya Allah.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Ikhlas

Posted by Unknown Monday, September 2, 2013 1 comments
Ikhlas artinya kita berbuat dan melakukan apapun hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah SWT, bukan untuk apapun dan bukan untuk siapapun. Ikhlas adalah kunci diterimanya ibadah dan bentuk-bentuk amal kebajikan. Meski besar nilainya di mata manusia, amal tersebut tidak ada artinya di mata Allah SWT bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Namun, sekecil apapun kebajikan itu di mata manusia, bila dibarengi dengan niat ikhlas, ia sangat besar nilainya dihadapan-Nya.
Perhatikan firman-firman-Nya di dalam Al Qur'an, semua menegaskan keikhlasan."Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,"(QS:Al-An'am (6):162).
Dalam QS Al-Bayinah (98) ayat 5, Allah SWT menegaskan bahwa umat-umat terdahulu (para ahlul kitab) juga diajarkan untuk berbuat ikhlas dalam buku-buku mereka. Mengapa? Karena, keikhlasan inti dari agama yang benar. Kepada Rasulullah SAW, Allah SWT menegaskan,"Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) dengan kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih."(QS:Az-Zumar(39):2-3).
Hadits berikut ilustrasi mengerikan dalam perjalanan panjang di Hari Akhir bagi sosok-sosok alim dan yang tampak dalam tampilan fisiknya seperti manusia suci. Yakni yang pertama akan diadili dimahkamah Allah SWT adalah orang yang mati di jalan perang (syahid). Ketika ditanya, ia menjawab bahwa ia berperang sampai mati syahid. Dikatakan kepadanya,"Kamu bohong!Kamu berperang dengan niat supaya kamu dikatakan pemberani, dan orang-orang sudah menyebut itu." Apa yang terjadi? Ia pun diseret dan dimasukkan ke dalam api neraka.
Lalu kedua, ualam, pengajarAl-Qur'an, dan pencerah umat. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa ia mencari ilmu dan mengajarkan Al-Qur'an. Lalu dikatakan kepadanya,"Kamu dusta! Kamu mencari dan mengajarkan ilmu dengan niat supaya dikatakan alim, dan orang-orang percaya itu," Apa yang terjadi? Ia pun diperlukan sama, diseret dan dicampakkan ke dalam neraka.
Dan yang ketiga, hartawan dan dermawan. Ketika ditanya, ke mana harta itu dipergunakan, ia menjawab bahwa ia telah menginfakkannya untuk umat. Lalu dikatakan kepadanya."Kamu pembohong!kamu lakukan itu dengan niat supaya disebut dermawan, dan orang-orang pun percayaitu." Lalu apa yang terjadi? Ia pun diperintahkan untuk dilempar ke dalam jurang neraka.
Ternyata banyak amal kebajikan, bahkan hingga menguras harta, berpeluh keringat dan darah, tapi kemudian sia-sia dan tak berbekas. Bahkan direspons dengan siksa neraka, oleh karena tidak disertai dengan ikhlas. Karenanya, mari kita tempatkan kebajikan kita dalam ruang suci bernama ikhlas. Jangan takut bila perbuatan kita tidak diketahui atau tidak dipuji orang. Karena pujian orang banyak tidak ada artinya bila Allah SWT menolaknya. Tapi, takutlah bila perbuatan kita ditolak Allah SWT karena tidak ikhlas.
Sebut sebuah hadits,"Seandainya seseorang di antara kalian melakukan suatu kebaikan di tengah padang sahara yang sangat sepi, dalam ruang tertutup tanpa pintu, amal itu suatu saat pasti akan ketahuan juga."


Semoga Bermanfaat


Baca Selengkapnya ....

Kedermawanan Abdullah bin Umar

Posted by Unknown 2 comments
Abdullah bin Umar merupakan putra dari Umar bin Khattab yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amalnya. Ayahnya sangat mendukungnya dan mendidik dalam hal keislaman. Bahkan, karena saudari kandungnya yng bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasululah SAW, maka ia senantiasa meneladani sifat dan kebiasaan beliau.
Abdullah bin Umar termasuk orang yang hidup makmur dan kaya raya. Ia merupakan pedagang dan saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian besar kehidupannya. Di samping itu, gajinya yang berasal dari Baitul maal (kas negara) dapat terbilang tidak sedikit. Namun, tunjangan tersebut tidak di simpannya, melainkan dibagi-bagi kepada fakir miskin dan anak yatim.
Bagi Abdullah bin Umar, kedermawanannya itu tidak membuatnya khawatir akan jatuh miskin dan kelaparan. Sikapnya yang senang memberi kepada orang lain menjadikannya dikenal sebagai orang yang sangat pemurah.
Seseorang bernama Ayub bin Ma'il Ar Rasibi pernah menceritakan salah satu contoh kedermawanan Abdullah bin Umar. Pada suatu hari, Abdullah bin Umar menerima uang sebanyak 4.000 dirham dan sehelai baju dingin. Hari berikutnya, Ayub bin Ma'il melihatnya dipasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berhutang. Maka, Ayub bin Ma'il pergi menemui keluarga Abdullah bin Umar."Bukankah kemarin Abdullah bin Umar menerima kiriman 4.000 dirham dan sehelai baju dingin?"tanya Ayub bin Ma'il.
"Benar." jawab salah seorang dari keluarga Abdullah bin Umar.
"Saya lihat ia tadi di pasar membeli makanan untuk hewan tunggangannya dan tidak punya uang untuk membayarnya,"kata Ayub bin Ma'il.
"Tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagi-bagikannya. Mengenai baju dingin, mula-mula dipakainya,lalu ia pergi keluar. Saat ia kembali, baju itu tidak kelihatan lagi. Ketika kami tanyakan, jawabnya bahwa baju itu telah diberikannya kepada seorang miskin,"tutur keluarganya.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ayub bin Ma'il pamitan pulang. Dalam perjalanan, Ayub bin Ma'il berkata dalam hati, sungguh kedermawanan Abdullah bin Umar bukanlah sebagai alat untuk mencari nama, popularitas atau mempeoleh penghormatan dari manusia. Semua niatan itu berasal dari dalam hatinya yang tulus dan semata-mata karena Allah SWT. Pemberiannya pun hanya ditujukan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang yang benar-benar membutuhkan. Ayub bin Ma'il menambahkan, jarang sekali ia makan seorang diri, karena pasti disertai anak-anak yatim dan kaum fakir miskin.
Suatu hari, Khalifah Utsman bin Affan pernah menawari Abdullah bin Umar untuk menjabat sebagai hakim. Namun, ia tidak mau menerimanya dan memilih menjadi warga biasa. Memasuki masa tua, Abdullah bin Umar kehilangan penglihatannya. Sahabat yang paling banyak meriwatkan hadits setelah Abu Hurairah ini, kemudian wafat pada tahun 72 hijriyah dalam usia 84 tahun.

 Semoga Bermanfaat


Baca Selengkapnya ....

Sedekah Menolak Balak

Posted by Unknown 1 comments
Hidup ini tidak seindah yang dibayangkan. Banyak hal yang tidak terduga menghampiri hidup kita. Kepahitan dan kegetiran adalah warna yang memoles lembar kehidupan manusia. Meski sesungguhnya bagi orang yang beriman, dunia ini adalah surga tak berperi dengan kenikmatan dan keelokannya yang tidak bertepi.
Untuk kita yang saat ini sedang dalam kubangan musibah, ada baiknya kita mencoba menyisir jalan kebaikan berikut ini. Atau, kita yang sedang dihantui kegagalan, inilah amalan yang menghibur untuk menolak berbagai kemungkinan balak.
Pertama, melazimkan doa. Orang yang terbiasa dengan berdoa akan mengalir sebuah kekuatan yang mampu menjadikan dirinya tegar. Bahkan, doa adalah sebuah proteksi ampuh menstabilkan kondisi hati dengan berbagai macam keadaannya. Disebut oleh Nabi Muhammad SAW,"Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa." (HR Ahmad). Bahkan, ada doa yang langsung dari Allah SWT untuk menuntun kita terhindar dari berbagai ujian, musibah, dan bala."Duhai Allah jangan sekali-kali Engkau uji kami di luar batas kemampuan kami."(QS Al-Baqarah:286).
Kedua, kesungguhan taqwa. Banyak disebut oleh berbagai ayat bahwa kesungguhan dan keseriusan dalam ketaqwaan mengantarkan ketangguhan spiritual dalam menyelesaikan setiap kesulitan hidup. Ini artinya semangat taqwa menghindarkan sebuah peristiwa buruk dalam hidup manusia."Siapa yang bertaqwa maka Allah jadikan baginya jalan keluar. Dan Allah karuniakan rezeki dari arah tak terduga. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah maka akan dicukupkan (nikmat dan kebutuhannya) .."(QS Al-Thalaq:2-3).   
Ketiga, Ridho orang tua. Setelah kita tegak dengan nilai-nilai langit seperti di sebut oleh dua poin di atas, saatnya kita mengumpulkan energi dari bumi. Dan, kita perlu memulainya dari bilik kedua orang tua kita. Doa dan restu mereka yang pada urutannya mengantarakan kepada sejuta kebaikan, yang kita unduh tidak hanya di dunia, tapi di akhirat. Keramat terampuh di dunia ini,tidak lain adalah doa dan restu orang tua."Ridho Allah ada pada ridho orang tua dan murka-Nya ada pada murka ke dua orang tua," demikian sabda Nabi Muhammad SAW riwayat al-Hakim. 
Keempat, sedekah. Keutamaan sedekah sudah banyak yang menyebutkan. Bahkan, secara terang sebuah hadis mengisyaratkan, "Sedekah itu benar-benar menolak balak."(HR Thabrani dari Abdullah ibnu Mas'ud). Karena , agama adalah amal. Maka, nikmat dan kelezatan beragama akan terasa jika benar-benar mengamalkan. Karena itu, saatnya kita buktikan dengan amal nyata. Kita bersedekah pasti ada proteksi balak yang langsung Allah SWT desain.
Kelima, istighfar."Kami tidak akan turunkan azab bencana selama mereka masih beristighfar."(QS al-Anfal:33). Berikutnya, silaturahim, berdzikir, dan sholawat. Terkait dengan dzikir, disebut oleh Nabi SAW,"Petir menyambar siapapun, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berdzikir."
Terakhir, senantiasa berbuat baik. Kebaikan yang kita tebarkan dibumi adalah kebaikan untuk kita yang Allah SWT gelontorkan dari langit (QS Ar-Rahman:60). Wallahu a'lam.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Galau dan Terasing

Posted by Unknown Saturday, August 31, 2013 1 comments
"Datangilah tempat yang Al-Qur'an sering dibacakan. Kamu duduk dan simak bacaannya. Niscaya kamu akan dapati ketenangan. Lalu, datangi tempat-tempat yang kamu diajak untuk mengingat Allah SWT dan akan bertambah ilmumu. Terakhir, datangi alas sajadahmu dikeheningan malam dan mengadulah kepada Rabb Pengatur hidupmu."
Cerita sarat hikmah ini boleh jadi menjadi bagian dari cerita hidup kita. Karena satu hal yang pasti, keadaan galau dan terasing menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisah dalam perjalanan hidup manusia. Dan, diantara kunci melepas lara dan keterasingan hidup adalah dengan sering mendatangi majelis-majelis ilmu dan zikir.
Rasul pernah mengatakan, betapa beruntungnya orang yang rajin dan istiqamah hadir di majelis-majelis ilmu dan zikir."Tidaklah satu kaum duduk membaca Al-Qur'an lalu mengkajinya dan berzikir kecuali akan menyita perhatian para malaikat, terliputi ketenangan dihatinya, ditenggelamkan dalam lautan rahmat-Nya dan semakin dimasyhurkan namanya di hadapan makhluk Allah SWT."
Ada banyak hikmah yang didapatkan dengan sering duduk berbaur dalam lautan manusia yang berzikir dan menuntut ilmu. Inilah yang akan kita dapati dengan menghadiri majelis kebanggaan Allah SWT dari malaikat-Nya itu.
Pertama, ilmu dan pengetahuan kita semakin bertambah. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah sering kali masalah menghimpit kita dan sulit menemukan cara menyikapi dan penyelesaiannya. Boleh jadi lantaran keterbatasanilmu dan pengetahuan kita. Dengan hadir di majelis ilmu dan zikir, berarti ada upaya pengayaan informasi dan ilmu.
Kedua, iman terjaga dan bertambah kuat. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah SWT gemetarlah hati mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal."(QS Al-Anfal(8):2).
Ketiga, tumbuh kecintaan kepada ulama. Rasul SAW bersabda,"Siapa yang memuliakan ulama, kalian memuliakanku dan siapa yang memuliakanku, Allah SWT muliakan dengan surga-Nya."
Keempat, cara paling jitu menghancurkan keangkuhan diri. Saat menegakkan kepala ke atas, melihat para ustadz, bukankah artinya kita mau mendengar dan melihat siapa yang di atas kita. Ketika merintih  dalam doa, maknanya supaya keluhan kita di dengar, itu artinya kita kecil, bodoh dan teramat banyak kekurangan. Karenanya, duduk di majelis zikir dan ilmu, pada gilirannya mampu membekap kesombongan kita.
Kelima, berkumpul dengan orang sholeh. Insya Allah, mereka yang hadir di majelis zikir atau ilmu adalah para perindu, pemburu kasih sayang, dan ridho Allah SWT. Mereka adalah orang-orang yang ingin hidupnya bermakna dan bahagia dunia akhirat.
Nabi SAW bersabda."Saat orang-orang sholeh berkumpul dan menyebut Allah SWT, malaikat mengepakkan sayapnya dan menaungi mereka dengan untaian doa : "Ya Allah SWT rahmati mereka dan ampuni mereka."

Semoga Bermanfaat 

Baca Selengkapnya ....

Hidup Sederhana

Posted by Unknown Friday, August 30, 2013 1 comments
"Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana". Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad. Hadist ini telah menunjukkan kebaikan dari hidup sederhana. Dan Alangkah lebih bijaknya lagi, jika kesederhanaan tersebut dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun pada kenyataannya, tidak sedikit yang bertindak sebaliknya, boros. Yakni dengan berbelanja kebutuhan materi yang hanya untuk menuruti dan menyenangkan hawa nafsunya, tanpa memperdulikan kebutuhan dan kegunaannya, Seperti mengoleksi perhiasan mahal, mobil mewah, tas, sepatu dan kesenangan duniawi lainnya.
Bila gaya hidup mewah dan cenderung berlebih-lebihan (boros) diterapkan dengan kondisi finansial yang tidak menunjang, hal ini bisa mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan negatif demi memuaskan nafsu dan gengsinya. Entah dengan mencuri, menipu atau tindakan negatif lainnya.
Untuk menghindari keadaan tersebut, para kaum muslimah hendaknya menerapkan gaya hidup sederhana, dan wajib berhati-hati dengan sifat boros. Pasalnya, kesederhanaan merupakan solusi terbaik dalam menjalani hidup sekaligus senjata ampuh agar terhindar dari sifat boros di dalamnya.
Mari kita bercermin dalam isah Fatimah binti Rasulullah dan suaminya Ali bin Abi Thalib ketika rumah tangganya menjalani krisis ekonomi, hingga pernah tiga hari ia tidak makan.
Dan ketika Ali melihatnya pucat, ia berkata,"Ada apa denganmu wahai Fatimah? Fatimah lalu menjawab,"Selama tiga hari kami tidak ada apa-apa di rumah.
Ali balik bertanya," Kenapa kamu tidak beritahu aku?"
Fatimah menjawab," Pada malam pertama ayahku, Rasulullah SAW, berkata kepadaku;"Wahai Fatimah, jika Ali datang membawa sesuatu makanlah, jika tidak jangan kamu minta."
Rupanya Fatimah mengerti benar posisi Ali pada saat itu. Kesibukan Ali dalam dakwah dan jihad membuat fatimah tidak mau mengusik masalah ekonomi rumah tangganya agar tidak menggangu pikiran Ali.
Kisah di atas telah menunjukkan bahwa, istri yang baik akan menjadi penenang dan tidak melelahkan suami. Selain itu, wanita yang baik juga akan menjaga harta suaminya dan membelanjakannya untuk hal yang positif. Bukan untuk mengeyangkan perut dan memenuhi keinginan nafsu yang tidak ada gunanya.
Dalam kisah lain Aisyah berkata,"Kami benar-benar pernah melihat tiga kali kemunculan hilal selama dua bulan, namun tidak pernah kunyalakan tungku api di rumah-rumah Rasulullah SAW."
Lalu Urwah bertanya kepada Aisyah," Kalau begitu apa yang membuat kalian bertahan hidup?"
Aisyah menjawab,"Dua hal, kurma dan air."
Sungguh alangkah sederhananya kehidupan istri-istri Rasulullah SAW. Mereka tidak terpengaruh oleh kenikmatan sesaat dan terhindar dari sifat boros. Bahkan, keluarga Rasulullah SAW tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam dua hari berturut-turut.
Aisyah berkata :"Keluarga Rasulullah SAW tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam dua hari berturut-turut, sampai ia meninggal." (HR. Bukhori dan Muslim).
Pada hakikatnya, manusia tidak akan pernah puas jika hanya menuruti nafunya. Ia akan terus menerus menginginkan yang lebih dan lebih lagi. Padahal, apa yang ada di dunia ini sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Wahai Muslimah, alangkah baiknya jika kita meneladani sikap sederhana dari istri-istri Rasulullah SAW. Dengan demikian, kita dapat terhindar dari sifat boros dan hidup akan lebih tenang.

Semoga Bermanfaat  
  

Baca Selengkapnya ....

Muslim Kaya

Posted by Unknown Wednesday, August 28, 2013 1 comments
Harta kekayaan merupakan nikmat Allah SWT yang harus di syukuri. Dengan kekayaan tersebut, diharapkan bisa menjadi sarana untuk mendapat ridho dari Allah SWT. Yakni digunakan untuk beramal, seperti berqurban, haji, zakat, infak, shodaqoh, menyantuni fakir miskin, dan terutama menyantuni anak yatim. Itulah jalan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dari amal ibadah itu pula yang akan menyelamatkan kita dari siksaan api neraka
Pada dasarnya harta bisa menjadi berkah ataupun azab, tergantung pada cara bagaimana ia mendapatkan dan memanfaatkannya. Bagi manusia yang bertaqwa, pasti akan menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia tidaklah kekal. Sehingga ia akan membelanjakan harta kekayaannya untuk beribadah.
Dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Majjah dan dinilai Shahih oleh Al-Busyairi dan Al-Albany, Rasulullah SAW bersabda, " Tidak Ada madarat (kerusakan, bahaya) dalam harta bagi mereka yang bertaqwa, tetapi kesehatan itu lebih baik daripada menjadi kaya bagi mereka yang bertaqwa."
Hal ini menunjukkan bahwa, ketika orang bertaqwa memiliki harta, maka tidak ada hal yang membahayakan bagi dirinya maupun orang lain. Karena itulah, tak ada dosa bagi seseorang untuk mengharapkan banyak uang, selama niatnya baik.
Namun, bila melihat realitas sosial saat ini, alangkah malunya ketika melihat saudara seiman mengemis di terminal, bus, kereta api dan tempat umumnya lainnya. Padahal Rasulullah SAW tidak mengajarkan emikian. Sebagaimana sabda beliau,"Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian. Kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya, lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang, kemudian ia meminta-minta kepadanya yang terkadang diberi dan terkadang tidak diberi olehnya,"(HR. Al-Bukhori).
Sebagai sarana untuk beribadah, harta memegang peran yang cukup penting. Bayangkan, bagaimana saudara bisa sholat dengan tenang bila perut lapar, jika anak menangis meminta susu, sementara saudara tak sanggup membelinya. Bagaimana saudara bisa menyantuni fakir miskin, bersedekah, haji dan menyekolahkan anak untuk menuntut ilmu bila tidak punya uang sama sekali.
Bagi orang miskin peluang kecil untuk melaksanakan itu, karena jangankan untuk bersedekah, berinfak, menyantuni anak yatim, untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja sulit. Selain itu, kemiskinan dapat memicu untuk berbuat kejahatan. Seperti sabda Rasulullah SAW,"Kemiskinanitu dekat dengan kekufuran, dan kedengkian itu dekat dengan mendahului qodar". (Faydhul Qodiir, juz 4, hlm.708).
Hal ini menunjukkan bahwa, adakalanya miskin itu membahayakan. Dari busung lapar, anak tak dapat sekolah, dekadensi moral, hingga memicu kriminalitas dan kejahatan. Itulah salah satu akibat dari kemiskinan. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu berdoa memohon perlindungan dari kemiskinan dan kekhufuran sebanyak tiga kali setiap matahari terbit dan terbenam. Doa Rasulullah SAW :"Duhai Allah, Aku memohon perlindunganMu dari kemiskinan dan kekhufuran. Aku juga memohon perlindunganMu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Engkau, Ya Allah."
Bukan hanya itu doa Rasulullah SAW, menurut riwayat Imam Muslim, sebelum tidur Rasulullah SAW selalu menutup hari dengan membaca doa, "Ya Allah, Lunasilah hutang-hutangku dan jauhkanlah aku dari kemiskinan."
Berdasarkan riwayat tersebut, bahwa Rasulullah SAW mengajari kita agar memohon perlindungan dari kemiskinan dan kekhufuran. Bahkan untuk soal kemiskinan dan kekhufuran ini, Rasulullah SAW selalu berdoa sebanyak tiga kali. Ini menandakan betapa sungguh-sungguhnya beliau memohon. Setiap usai shalat dan menjelang tidur, Rasulullah SAW juga berdoa dengan permohonan yang serupa. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika umat muslim kaya, sehingga dengan kekayaan yang diberikan oleh Allah SWT, dapat beramal lebih banyak lagi. Wallahu a'lam bisshowab.


Semoga Bermanfaat      

Baca Selengkapnya ....

Doa Kesuksesan

Posted by Unknown Tuesday, August 27, 2013 0 comments
Hidup di dunia yang hanya sementara ini, kita sudah memikirkan kehidupan yang abadi kelak, yakni kehidupan di akhirat. Amalan kita di dunia saat  ini, semuanya akan dihisab oleh Allah SWT kelak di akhirat. Dan sudah seharusnya kita mempersiapkan bekal amal sholeh selama di dunia.
Dan, amalan-amalan yang kita lakukan, tentulah harus ikhlas kita lakukan. Dengan keikhlasan itu, amalan kita akan bernilai disisi Allah SWT. Dan yang tidak kalah pentingnya, ialah keseriusan kita dalam berdoa kepada Allah SWT. Kita berdoa meminta pertolongan kepada Allah agar semuanya menjadi lancar. Ada beberapa hal yang kita harus selalu doakan kepada Allah SWT. Semoga dengan doa tersebut, semakin memacu kita untuk terus beramal sholeh.

Adapun beberapa permintaan dalam doa itu adalah :
1. Memohon agar kelak di akhirat, kita dikenali oleh Nabi Muhammad SAW.
Sewaktu saya melaksanakan suatu pengamanan unjuk rasa di Surabaya, saya bertemu dengan Kapolresta, beliau menegur saya, Saya sungguh merasa bangga dan senang dikenal seorang pejabat Kepolisian, Nah, saya yakin saudara pun akan merasa bangga dan senang jika dikenal oleh seorang pejabat. bayangkan saudara dikenal oleh Bupati, Gubernur atau bahkan presiden. Senang, bukan? Begitulah, kita akan merasa amat senang jika dikenal oleh seseorang yang besar, apalagi beliau mampu menolong kita ketika kita berada daam kesulitan.
Bagaimana hlnya kita dikenl dengan manusia terhebat, seorang rasul yang sangat dikasihi Allah? Tentulah kebahagiaan yang kita rasakan. Terlebih ketika di akhirat, dimana tak ada yang bisa menolong kita. Dan tentu kita merindukan pertolongan Rasulullah SAW. Dan, alangkah bahagianya ketika beliau mengenali kita sebagai umatnya dan belaiu pun memberikan syafa'atnya kepada kita. Allahumma amin.
Begitulah, saudaraku, Kalau ita ingin dikenali Rasulullah SAW, maka kita harus mengenali beliau terlebih dahulu. Pelajarilah akhlak beliau. Dan marilah kita teladani akhlak beliau. Semoga dengan begitu, kelak beliau dapat mengenali kita sebagai umat beliau.

2. Kita memohon agar kelak di akhirat, kita menerima buku catatan amalan kita dengan tangan kanan.
Oang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan kelak di akhirat, tentulah melakukan amalan sholeh ketika di dunia. Kalau kita menginginkan untuk masuk golongan kanan, maka kita tidak boleh lelah untukterus beramal sholeh. Istirahat kita adalah nanti ketika kaki kita sudah melangkah ke surga.
Memang tidak mudah, tapi kita harus berusaha berjuang sekat mungkin. Teruslah beramal sholeh. Ingatlah kematian itu pasti datangnya, meski kita tidak tahu kapan itu terjadi. Oleh karena it, jangan pernah lelah beramal sholeh di dunia ini, Insyaallah dengan begitu kelak kita termasuk golongan mereka yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.

3. Kita memohon agar kelak di akhirat, kitadapat masuk surga bersama-sama dengan seluruh keluarga kita.
Akhirnya harapan kita adalah kelak bisa berkumpul dengan seluruh sanak keluarga. Semoga keimanan yang sudah tertanamkan dalam diri kita, yang kemudian kita amalkan dalam amalan sholeh dan dapat diikuti oleh anak cucu kita.
Begitupun amalan sholeh yang diturunkan oleh generasi di atas kita dan kita amalkan, dapat mengalirkan pahala kepada mereka tanpa mengurangi pahala mereka. Dengan begitu, semoga kelak kita dikumpulkan dalam surga Allah bersama sanak keluarga kita dengan kebahagiaan yang takkan pernah usai di akhirat. Amin....

   
Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Membalas Jasa Ortu Yang Meninggal Dunia

Posted by Unknown 0 comments
Kita semua hidup di dunia ini memang banyak  di sibukkan dengan berbagai macam kesibukkan baik kesibukkan dalam belajar, bekerja dan sebagainya, kita dilahirkan oleh orang tua di dunia ini dengan harapan untuk menjadi anak sholeh, berbhakti kepada Orang tua, Agama, Nusa dan Bangsa, namun harapan tersebut masih ada beberapa anak yang masih belum sadar akan asal usulnya/kurang berbhakti.
Memang seorang anak wajib berbhakti pada orang tua dengan cara menghormati, mencintai, tidak berkata uff, tidak membentak, membantu kesibukannya, tidak minta sesuatu diluar kemampuan orang tua, memberi nafkah pada orang tua yang tidak mampu membahagiakannya, membalas budi jasanya dan mendoakannya, dan ancaman adzab bagi orang yang durhaka pada orang tua baik di dunia atau di akhirat kelak.

 Bahkan dosa besar setelah syirik yaitu orang yang durhaka pada orang tua. Hal ini sebagaimana di firmankan Allah SWT: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orang ibu-bapak". (QS. An Nisa':36).
Tapi bagi seorang anak yang belum sempat berbhakti pada orang tua dimasa hidupnya, masih ada kesempatan untuk berbhakti setelah wafat orang tuanya. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini : Dari Abu Usaid Malik Ibn Rabi'ah as-Sa'idi, ia berkata: Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW, datang seseorang dari Bani Salimah lalu bertanya : " Wahai Rasulallah, apakah tersisa sedikit saja dari kebaikan yang bisa aku lakukan untuk orang tuaku sesudah kewafatannya?" Beliau menjawab:" Ya, yaitu mendoakan mereka, memohon ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka, menyambungkan hubungan kekerabatan yang hanya bisa terhubungkan melalui mereka, dan menghormati teman mereka." (Sunan Abi Dawud kitab al-adab bab fi birri-walidain no. 5144, Sunan Ibn Majah kitab al-adab bab shil man kana abuka yashil no. 3664; Musnad Ahmad no. 16103; al-Mustadrak 'alas-Shahihain kitab al-birr was-shilah bab hal baqiya min birri abawayya syai'un no. 7369). 

Untuk itu, masih ada kesempatan kita untuk membalas jasa/berbhakti pada orang tua walaupun sudah meninggal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits diatas, yaitu :
1. Mendoakan mereka, memohon ampunan untuk mereka dan selalu membacakan surat Al Fatihah, Yasin tahll, Shadaqah untuk orang tua. Bahkan kalau bisa menghajikannya kalau almarhum blum haji.

2. Memenuhi janji mereka, kalau waktu hidupnya punya janji atau hutang, maka seharusnya anak yang membayarkannya.

3. Menyambungkan hubungan kekerabatan yang hanya bisa terhubungkan melalui mereka, jangan sampai famili putus karena orang tuanya sudah meninggal dunia.

4. Menghormati teman mereka. Jika orang tua waktu masih hidup punya sahabat atau teman, harus tetap diteruskan oleh anaknya, jangan diputus silahturahim.

Teruslah mohon ampun kepada Allah SWT dan memohonkan ampun dosa orang tua kepada-Nya. Serta bertaubatlah dengan cara berhenti dari perbuatan dosa, menyesali, niat untuk tidak mengulangi lagi dan menyelesaikan tanggungan hak, serta mengisi amal baik. Semoga dengan usaha dan amal sholeh, semua dosa kita dan dosa orang tua kita diampuni oleh Allah SWT. Amin yaa Robbal alamin.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Sosok Pemimpin Sederhana

Posted by Unknown Sunday, August 25, 2013 0 comments


 


     Memberikan teladan yang baik merupakan keharusan bagi seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi rakyatnya. Seperti yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab, meskipun  harta kekayaannya melimpah, namun gaya hidupnya sangat sederhana. Dalam memandang harta, ia tak tergiur sedikitpun untuk mengambil hak orang lain. Jangankan korupsi, mengambil haknya sendiri ia enggan. Ia menggunakan hartanya untuk keperluan umat dan dakwah. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan hampir tak pernah makan kenyang demi menjaga perasaan rakyatnya, Padahal, Umar adalah orang yang sangat kaya, namun beliau telah menunjukkan sosok pemimpin sederhana.

     Pernah suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur,"Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu? Dengan gugup, sang gubernur menjawab, " Tentu tidak, wahai Amirul Mukminin. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas berdiri dan bersuara keras, " Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar Bin Khattab, seorang kepala negara yang zuhud.

     Di lain kesempatan, pernah beberapa sahabat ra, di antaranya Ali, Utsman, Zubair, dan Thaihah dalam suatu majelis membicarakan usulan agar tunjangan Khalifah Umar bin Khattab ditambah, karena sepertinya tunjangan itu terlalu kecil. Mereka sepakat untuk merundingkannya dengan Umar dan meminta kepadanya agar dia menaikkan gaji serta tunjangannya. Namun para sahabat mengurungkan niatnya, sebab mereka sama-sama mengetahui bahwa Umar bin Khattab adalah seorang yang amat  keras dan mudah naik darah. Akhirnya, mereka bersepakat untuk meminta bantuan Hafshah, salah seorang istri Nabi SAW,  yang tidak lain adalah putri Khalifah Umar ra.

     Ummul Mukminin Hafshah kemudian menyampaikan usul tersebut kepada ayahnya, Umar ra. Mendengar itu, Khalifah Umar ra. bukannya senang, ia malah tampak marah. Beliau berkata, " Siapa yang telah mengutusmu untuk mengajukan usulan itu. Seandainya aku tahu nama-nama mereka, aku akan memukul wajah-wajah mereka!" Khalifah Umar ra. kemudian berkata, "sekarang ceritakan kepadaku pakaian Nabi SAW yang paling baik yang ada dirumahmu."
"Beliau memiliki sepasang pakaian berwarna merah yang dipakai setiap hari Jum'at dan ketika menerima tamu," Jawab Hafshah. Umar bertanya lagi, " Makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah SAW dirumahmu?"
"Roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan kedalam minyak," Jawab Hafshah, " Alas tidur apa yang paling baik yang pernah digunakan Rasullullah SAW dirumahmu?" tanya Umar lagi. "Sehelai kain, yang pada musim panas dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh untuk alas tidurnya dan separuh lagi untuk selimut," jawab Hafshah lagi.
Khalifah Umar ra. lalu berkata, "Sekarang, pergilah. Kat  akan kepada mereka, Rasulullah SAW telah mencontohkan pola hidup sederhana, merasa cukup dengan apa yang ada demi meraih kebahagiaan akhirat. Aku tentu akan mengikuti teladan beliau .....".
 
     Demikianlah sikap Umar bin Khattab ketika dihadapkan pada harta yang melimpah. Ia tetap dalam sosok pemimpin yang sederhana. Ketika wafat, Umar Bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp. 160 juta dalam prediksi konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar bin Khattab meninggalkan warisan sebanyak Rp. 11,2 triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat ini menghasilkan Rp. 49 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp. 2,8 triliun setiap tahun, atau 233 miliar sebulan.
Harta kekayaannya ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak hnysedikitpun ia menyombongkan diri dan mempergunakan untuk bermewah-mewahan dan berlebihan. Hingga menjelang akhir kepemimpinan Umar, Usman bin Affan pernah mengatakan, "Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun Khalifah penggantimu Kelak."


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....