Rumah Tangga Sebagai Pusat Ilmu

Posted by Unknown Monday, March 11, 2013 0 comments

Ilmu
Rumah tangga yang akan ditingkatkan derajatnya oleh Allah SWT. ternyata bukan rumah tangga yang memeliki kedudukan tinggi. Tak jarang kedudukan tinggi itulah yang menghinakan. Tidak jarang pula kekayaan yang banyak akan membuat sebuah rumah tangga "dimiskinkan" oleh keinginan-keinginan, diperbudak dan dinistakan oleh apa yang dimiliki.
    
    Ingat, " Yarfa 'illahul ladziina aamanu minkum, walladziina utul 'ilma darajaat" (QS al-Mujaadilah [58]: 11). Ditinggikan oleh Allah SWT orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat, Artinya, sesudah memantapkan niat kita kepada Allah untuk berumah tangga, maka kekayaan yang harus kita miliki dalam berkeluarga adalah ILMU. Barang siapa yang ingin dunia harus pakai ilmu. Ingin akhirat harus pakai ilmu, Ingin dunia dan akhirat harus pakai ilmu.
    
    Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut ilmu, kegigihan rumah tangga dalam memperkaya ilmu, kegigihan sebuah rumah tangga dalam meluaskan ilmu adalah kekayaan yang teramat berharga. Karena orang yang tidak punya ilmu seperti orang yang main film, main sinetron, tapi tidak mengenak skenario. Ibarat orang yang memasuki rimba belantara tetapi tidak membawa peta. Seperti orang yang masuk kedalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya. Sepanjang harinya dipenuhi oelh rasa was-was. Sepanjang waktunya diselimuti oelh kegelisahan. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. Oleh karena itu, wahai pembaca yang budiman, pastikan kekayaan kita adalah ILMU.

    Pupuk iman adalah ilmu, malah kita akan menjadi "penjaga harta". Kalau memiliki ilmu yang akan menjaga kita. Harta dinafkahkan bisa habis, ilmu bila kita nafkahkan kian melimpah. Oleh karena itu, pastikan agar anggota keluarga kita selalu sungguh-sungguh untuk mencari ilmu. Baik ilmu tentang hidup di dunia maupun akhirat.

    Allah SWT menjanjikan, jikalau Allah SWT cinta kepada sebuah keluarga, cirinya ialah dibukakan hati mereka untuk belajar ilmu agama. Untuk itu, carilah majelis taklim (majelis ilmu), datangi dengan sunguh-sunguh. Beli buku-buku agama. jadikan perpustakaan menjadi bagian penting dari hiasan rumah kita. dengarkan radio, beli kaset, VCD atau apa saja yang membuat kita semakin mengenal siapa Allah SWT, bagaimana perjalanan menuju kepada-Nya dan bagaimana menyikapi hidup di jalan yang disukai oleh Allah SWT.

    Percayalah, rumah tangga yang kurang berilmu adalah rumah tangga yang hanya akan akrab dengan sikap emosi, jauh dari kearifan dan hanya mengandalkan kekasaran. Padahal, rumah tangga semacam ini kian hari akan selalu bertambah masalahnya, kian hari bertambah kebutuhannya, dan bertambah potensi konfliknya, Bagaimana mungkin segala yang bertambah disikapi dengan ilmu yang tidak bertambah pula.
Maha Suci Allah SWT yang menjanjikan kemuliaan hanya bagi orang yang beriman dan berilmu.     


Semoga Bermanfaat     

Baca Selengkapnya ....

Optimisme dan Suka Cita Menghadapi Kehidupan

Posted by Unknown Friday, March 8, 2013 0 comments


"Jalanilah seluruh kehidupan dengan optimisme dan suka cita, harapan cemerlang dan keberanian menggebu, serta kata-kata yang dipenuhi perdamaian".

   Saya ingin menarik perhatian anda pada peristiwa atau hal yang tidak mendapat perhatian masyarakat dan pada umumnya dianggap tidak mempunyai pengaruh penting pada jiwa serta kehidupan manusia ataupun pada perasaan hati manusia.
mengapa hal itu dianggap tidak begitu penting? Apakah sebenarnya yang berpengaruh besar pada pendirian hati, jiwa, kehidupan pribadi dan terlebih lagi berpengaruh pada orang lain? Jawabannya adalah "kata-kata" praktis yang anda pakai dalam kehidupan sehari-hari.
Kata-kata yang selalu dipakai setiap saat.
   Jika demikian apakah anda menggunakan kata-kata yang membangkitkan rasa hormat dan menghargai diri sendiri?
Ketika berbicara tentang sesuatu, khususnya tentang diri sendiri tanpa mengenal diri sendiri, bukannya kata-kata positif melainkan kata-kata negatif yang berhamburan keluar, yang dikatakan dengan wajah tanpa ekspresi bersalah dan dilakukan tanpa disertai pikiran bahwa itu adalah suatu hal yang buruk.
    Akan tetapi semakin sering kita berbicara tanpa memikirkan bahwa hal itu buruk maka ini tidak saja membuat diri sendiri bodoh, tetapi juga membawa puruk pada jiwa orang yang mendengarnya. Sama seperti pepatah yang mengatakan adanya sebuah apel busuk akan merusak seluruh apel-apel cantik yang ada di sekitarnya.
    Jika dibicarakan lebih jelas lagi, ada perasaan nurani yang tersembunyi dalam kehidupan spiritual manusia. Walaupun hanya sepatah kata diucapkan, apa yang disebut perasaan nurani yang tersembunyi ini seakan secara otomatis bereaksi terhadap suara, baik disadari ataupun tidak. Pada saat menyadari perasaan alam bawah sadar ini, keadaan akan menjadi seperti ini.
Maka lahirlah kata-kata agung dan kata-kata suci. Dengan kata lain, jika segala sesuatu diutarakan dengan kata-kata optimis dan positif, maka segala sesuatu dalam kehidupan akan muncul dalam keadaan baik.
    Akan tetapi sekali kata-kata seperti "kemarahan","kesedihan", "penderitaan", kebingungan", dan "kecemburuan", tanpa segan-segan berhamburan keluar dari mulut, maka pada saat itu juga, selain dikatakan bodoh , hal itu akan mengundang akibat yang mengerikan . Ini kenyataan!
Tidak ada kekuatan lebih besar yang dapat dirasakan langsung melebihi kata-kata praktis yang dipakai oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menentukan tindakan yang benar-benar disadari lebih dari kekuatan yang dirasakan yaitu kekuatan batin. Dapat dikatakan bahwa orang yang dapat memahami hal ini dengan benar dan menerapkan dalam hidupnya, tidak salah lagi orang itu akan menjadi orang luiar biasa sesuai dengan prinsip pertama dari filsafat kehidupan.
Bukannya bermaksud membicarakan panjang lebar, hal ini dikarenakan kehidupan diungkapkan dengan kata-kata melalui filsafat dan ilmiah. Demikianlah kata-kata mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan. Kesadaran akan hal ini akan menjadi senjata terbaik untuk memenangkan kehidupan.
   Apapun yang dilakukan dengan mempertimbangkan kenyataan yang amat penting ini, artinya selalu menaruh perhatian khusus kepada kata-kata, maka dalam situasi bagaimanapun juga selalu waspada dan hanya menggunakan kata-kata positif dan optimis.
Di dalam dunia ini tidak ada kata-kata yang dikeluarkan tanpa ada ekspresi apapun. Selama kata-kata itu dikeluarkan oleh manusia, sebelum ke luar dari mulut, pasti ada "maksud"nya. Dengan kata lain, di dalam kepala ada pikiran yang membentuk kata-kata tersebut kemudian dikeluarkan lewat suara.
Jadi, hal penting yang harus selalu dipegang teguh adalah "jangan pernah menggunakan kata-kata negatif atau pesimis walaupun hanya sekali"! Ini akan menjadi suatu kebiasaan yang tidak boleh tidak harus dilakukan, karena akan membuat menusia menjadi bahagia tidak hanya dalam segi kesehatan tetapi juga dalam segi nasib. Saya merasa yakin akan hal ini. Jika anda mengeluarkan kata-kata positif dengan penuh harapan, sepenuh hati dan optimis, yakin dan percayalah bahwa segala sesuatu akan tercapai.

Semoga Bermanfaat 

    

Baca Selengkapnya ....

Perasaan Bersalah dan Sikap Menolak

Posted by Unknown 0 comments

     Jika kita terus menerus dicela dan ditolak karena tidak dapat memenuhi harapan orang tua, atau jika kita harus menanggung beban emosional yang terlalu berat, maka kita akan terbentuk menjadi orang yang selalu saja merasa tidak disetujui atau kurang berbobot. Bila tidak dicintai dan dihargai oleh orang tua kita, bagaimana kita dapat mencintai dan menghargai diri kita sendiri? Dan jika tidak dapat mencintai serta menghargai diri sendiri, bagaimana kita dapat mencintai dan menghargai orang lain secara tulus? "cintai" kita akan selalu berpamrih kerinduan untuk diterima yang pada gilirannya menyebabkan kecemasan.

     Rendahnya harga diri ini akan menyebabkan perasaan bersalah yang menyeluruh. Bukan karena pada kenyataannya kita telah melakukan suatu kesalahan, tetapi karena ada suatu suasana langgeng di mana kita merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang bermutu. Ini bukanlah kesalahan dalam arti sesungguhnya, tetapi suatu perasaan tidak tentram dalam diri kita yang memaksa kita harus menentramkan orang lain sepanjang waktu dan memaafkan diri kita terus menerus. Kita tidak pernah merasa yakin bahwa kita telah bekerja cukup baik untuk mendapatkan persetujuan. Kita berusaha menjadi orang yang dibutuhkan, terus menerus memberikan perhatian pada orang banyak dan berbuat baik untuk meyakinkan bahwa kita dapat diterima. Mengenai diri kita sendiri, kita diliputi keraguan yang mengerikan berkaitan dengan nilai diri kita.

     Cara hidup seperti ini sangat tidak memuaskan, Kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan berarti bahwa kita tidak pernah dapat menjadi diri sendiri. kita harus selalu berusaha mencocok diri kita dengan gambaran orang lain tentang kita seperti yang kita inginkan.nya "cinta" dari orang lain membuat kita merasa sangat cemas.

     Relasi-relasi yang didasarkan pada kebutuhan untuk dibutuhkan senantiasa menjadi jebakan. Relasi seperti ini tidak didasarkan pada cinta dan kepercayaan, oleh karenanya menjadi relasi bersyarat. "ah. tetapi setiap orang merasa butuh untuk dibutuhkan,"kata orang, "itu wajar saja. "bukan begitu. Jikahal itu kita pertahankan sebagai cara untuk mendapatkan harga diri dan peneguhan maka kita berada dalam perbudakkan. Meskipun demikian, jika kita sepanjang waktu meletakkan diri kita pada posisi dibutuhkan dan setelah itu dapat membebaskan diri lagi, persoalannya menjadi lain.

     Apabila kita dikuasai rasa bersalah yang tidak tepat, biasanya kita tidak mudah mengampuni diri sendiri. Meskipun pada kenyataannya orang lain menerim, mencintai dan memaafkan kita, kita akan terus merasa buruk di dalam diri kita. Kelihatannya tidak masuk akal, dan kita menyadarinya, tetapi itulah yang terjadi.

     Dengan kesadaran seperti ini, seharusnya kita mulai mencari sebab-sebabnya dalam hidup batin kita. Kemungkinan besar kita akan menemukan sang anak dalam diri kita yang menanggung semua gejala rendahnya harga diri. kita tidak dapat menerima diri sendiri karena sebagai anak-anak kita tidak merasa diterima secara wajar, kata-kata peneguhan, sekarang ini sudah tidak ada pengaruhnya lagi. Kita akan memproyeksikan pada orang lain anggapan-anggapan batin kita: "menurut saya, saya buruj, maka mereka pasti juga berfikir bahwa saya buruk".

     Jika kita diminta menjelaskan siapa Tuhan, kemungkinan besar kita akan menggambarkan seorang tiran yang kaku, monster sadis yang menuntut kita untuk memperhatikan semua rincian tentang apa yang benar dan salah. Teman-teman kita harus memberi banyak waktu dan perhatian penuh cinta dan membutuhkan "campur tangan inkarnasi" untuk membantu agar kita dapat mempercayai cinta mereka, dan tahap demi tahap menerima Tuhan sebagai pribadi yang pantas kita percaya, penuh belas kasih, kehangatan, kebijaksanaan dan cinta. Kemudian kita akan lebih mampu mengampuni diri kita sendiri.

     Tentu saja ada perbuatan yang pada kenyataannya memang salah. Kita bertanggung jawab atas sesuatu yang kita lakukan sengan bebas, padahal seharusnya tidak kita lakukan. Kita harus bertanggung jawabdan sedapat mungkin berubah. penyembuhan tidak akan terjadi sampai kita mengakui, menerima dan memaafkan pelanggaran itu. Pengampunan yang diberikan sebelum kita benar-benar menyesal hanya dapat memperkeras sikap-sikap kita. Oleh karenanya ada kesalahan tambahan jika kita menerima pengampunan yang belum berhak kita dapatkan. Topi seorang anak yang secara sengaja telah memecahkan sebuah pajangan berharga dan kemudian merengek minta ampun bukanlah suatu pengampunan. Pengampunan berarti mengakui apa yang bersalah tetapi tidak membiarkan hal itu menghancurkan relasi. Pada kenyataannya keretakan ini dapat dipakai untuk memperdalam sebuah relasi.


Semoga Bermanfaat 

Baca Selengkapnya ....

Tekad atau Komitmen

Posted by Unknown 0 comments

Tekad atau Komitmen

“ Mengenai segala fakta tentang inisiatif dan penciptaan, ada kebenaran yang mendasar. Bahwa sekali seseorang benar-benar memiliki komitmen dalam dirinya sendiri untuk memenuhi potensi terbaik sesuai talenta yang dimiliki, maka Tuhan Yang Maha Kuasa juga ikut bergerak mendukungnya ”.

   Semua emosi jelas bermanfaat, akan tetapi kalau ingin lebih berhasil harus memiliki tekad yang kuat di dalam meraih sukses. Kan ada tantangan, hambatan, rintangan dan berbagai penghalang yang mencoba untuk menghalangi kita dari keberhasilan yang kita dambakan. Untuk itu, kita memerlukan apa yang disebut tekad atau komitmen.

    Memiliki tekad berarti kita melakukan apa saja yang berguna dan positif untuk meraih tujuan utama yang telah kita tetapkan. Kita bukan hanya mendorong diri kita sendiri, melainkan juga memiliki komitmen kuat dan tekad bulat, karena mengetahui bahwa apa yang ingin kita raih itu penting dan sangat berarti bagi diri sendiri dan sesama. Semua tindakan yang hasilnya memuaskan pada dasarnya berasal dari tekad atau komitmen yang kuat.

   Memiliki komitmen berarti kita melakukan segala upaya untuk mewujudkan apa yang kita impikan betapa pun sulitnya jalan yang akan kita lalui. Dengan semangat yang didasarkan atas tekad atau komitmen, kita dapat meraih apapun yang kita inginkan, asalkan kita mengetahui bahwa apa yang kita inginkan itu di dalam batasan realitas dan mungkin utnuk dicapai.

    Tanpa komitmen kita akan cepat merasa frustasi dan kecewa berat. Hidup ini terasa sangat sulit bagi mereka yang gampang menyerah, tetapi terasa ringan dan mudah bagi mereka yang memiliki tekad dan komitmen kuat atas tujuan yang telah mereka tetapkan. Keberanian melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk meraih tujuan adalah energi luar biasa yang mampu mengalahkan segala macam penghalang seperti ketakutan, kecewaan, bahkan untuk belajar dari setiap kegagalan. Dengan tekad dan komitmen yang kokoh untuk meraih tujuan berharga dan penting, segala masalah dan penghalang pun dapat dihancurkan.

   Kekuatan tekad atau komitmen dapat membedakan antara kegagalan dan keberhasilan. Tekad ini haruslah fleksibel terhadap realitas. Dengan fleksibilitas ini, kalau suatu pendekatan atau usaha meraih suatu tujuan itu gagal, maka kita dapat mengubah pendekatannya, dapat mencari alternatif lain yang jauh lebih baik. Kita harus berpegang teguh pada komitmen kita yang paling utama dan mendasar tetapi secara total tetap fleksibel dalam pendekatannya. Prinsip itu tidak berubah, tetapi kita dapat mengubah pendekatannya dengan tetap berpegang teguh pada prinsip.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Keyakinan

Posted by Unknown 0 comments
Dorongan

Keyakinan

“Saya percaya bahwa sehelai rumput tidak lebih kecil artinya dari riwayat sekumpulan bintang-bintang. Tetapi manusia memiliki arti dan potensi yang luar biasa besar, jauh melebihi dari apa yang dapat dia bayangkan. Potensi ini merupakan misteri yang belum pernah terungkapkan, hanya waktu yang akan membuktikan.”

     Rasa yakin atau percaya kita dapat berhasil, bahwa kita dapat meraih apa yang kita impikan, merupakan suatu kepastian yang mengisi hidup dengan berbagai kemungkinan. Cara paling tepat untuk memanfaatkan setiap detik, menit dan jam yang kita lalui adalah dengan memiliki rasa yakin bahwa kita bisa berhasil dan secara positif bertindak kearah keberhasilan itu. Kita perlu merasakan dan memastikan bahwa keyakinan dan kepercayaan itu ada dan tumbuh sepanjang hari. Keyakinan itu perlu kita tumbuh dan kembangkan menjadi emosi yang semakin kuat.

   Keyakinan membuat kita bertindak sekarang juga, tidak hanya menunggu, untuk membentuk masa depan dengan sebaik mungkin. Meskipun kita menghadapi situasi sulit yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, tetapi karena kita memiliki keyakinan yang kuat dan gigih, kita akan mampu melakukan tindakan yang efektif. Kita tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang karena kita percaya bahwa masa depan pastilah berpihak pada diri kita. Dengan demikian kita dapat bertindak secara efektif dan efisien. Masa depan akan dapat kita hadapi dengan keberhasilan penuh karena rasa percaya diri kita.

     Untuk menanamkan rasa keyakinan bahwa kita bisa berhasil, meskipun kita harus menghadapi tantangan dan situasi yang paling sulit, kita harus meraih sukses kecil yang berarti besar sesering mungkin. Kita harus memiliki misi dan visi hidup. Memiliki visi berarti kita dapat membayangkan dan merasakan suatu peristiwa yang kita inginkan sekarang juga, tidak menunggu terlalu lama dan membayangkan terlalu jauh ke depan.

  Salah satu cara untuk mengembangkan kepercayaan adalah dengan menumbuhkan dan melatihnya secara rutin dan praktis. Kalau kita diminta untuk mengikat tali sepatu, misalnya sudah tentu kita memiliki kepercayaan yang tidak tergoyahkan bahwa kita mampu melakukannya tanpa keraguan sedikit pun. Alasannya? Kita telah melakukannya beribu-ribu kali. Sudah tentu kepercayaan dapat dibangun dengan melatihnya secara konsisten dan terus menerus . Dengan melatih rasa percaya ini pada diri kita sendiri ataupun orang lain, bisa dipastikan kita akan kagum pada hasilnya.

    Guna meraih keberhasilan yang kita dambakan adalah penting untuk memiliki kepercayaan disbanding rasa takut. Sayangnya banyak orang justru lebih membesar-besarkan rasa takut di banding menumbuhkan keberanian mereka, bahkan ada yang merasa gagal sebelum mencoba. Kita perlu ingat bahwa sumber keberhasilan adalah menemukan cara yang membangun kepercayaan bahwa kita mampu meraih keberhasilan.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....