Keteladanan

Posted by tri novi handono Saturday, October 5, 2013 0 comments
Hadirnya Hari Raya Idul Adha tidak pernah bisa dilepas dari sejarah perjalanan dan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dua generasi, orangtua dan anak ini mampu bersinergi di dalam menjalankan ketaatan untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati. Hal ini ditunjukkan pada saat menghadapi perintah Allah yang cukup berat.
Perintah itu telah diabadikan Allah di dalam surat as-Shaffat ayat 102,"Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku, bahwa aku menyembelih engkau, maka perhatikanlah bagaimana pendapatmu?" Anaknya menjawab, "Wahai ayahku, kerjakan apa yang diperintahkan Allah, ayah akan mendapati bahwa aku berhati sabar, insya Allah"
Dialog di atas merupakan cermin ketulusan dan keluhuran pribadi yang menjadi teladan dari dua generasi. Generasi tua yang ditunjukkan oleh seorang ayah yang bijaksana, Nabi Ibrahim as, dan generasi muda yang ditunjukkan oleh seorang anak yang memiliki kepatuhan , Nabi Ismail as.
Sebuah keteladanan yang saat ini hampir sulit ditemui di dalam keluarga, adalah membangun komitmen ketaatan. Ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan yang memang menjauhkan manusia untuk mendekat kepada Allah, terutama dalam membimbing putra-putri tercinta. Selain itu, kesibukan tentang mengejar dunia, sering kali lupa tugas utama sebagai hamba Allah untuk senantiasa mengabdi kepadaNya.
Berapa kali kita lalui Idul Adha dan berapa kali kita merenungi hikmah di balik kisah yang penuh makna ini. Lalu bagaimana kualitas hidup saat ini? Terutama dalam membangun keluarga yang senantiasa memiliki komitmen untuk taat kepadaNya. Apakah kehidupan kita meningkat, tetap seperti sebelumnya,atau justru kualitas iman semakin menurun?
Sudah saatnya kita berguru pada nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Raya Idul Adha. Perilaku kesabaran dan kesadaran dalam berkorban untuk memenuhi panggilan Allah. Kegiatan ini bukan sekedar simbol formalitas, tetapi wujud pengorbanan yang tulus ikhlas sebagai bentuk ketaatan untuk menghambakan diri padaNYa.
Ikhlas memang kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan dengan baik. Namun demikian perlu untuk tetap diusahakan, karena bagaimana pun juga ikhlas menjadi penentu dalam setiap perilaku. Ikhlas tumbuh dari sebuah niat, karena niat sebagai pengikat amal manusia. Ketika niat sudah salah, maka hasilnya akan bermasalah.
Seorang ulama, Sufyan ats-Tsauri pernah berkata,"Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niat, karena begitu seringnya niat itu berubah-ubah." Ini artinya, kita bisa tetap waspada terhadap niat kita. Begitu ada perubahan niat yang mengarah pada hal-hal yang kurang baik, maka segeralah untuk diluruskan.
Kembali pada persoalan sinerginya dua generasi, generasi tua dan generasi muda. Ismail sebagai wakil generasi muda menjadi sosok manusia yang memiliki kepatuhan terhadap orangtua. Ini tidak lain dikarenakan orangtua yang bisa menjadi teladan. Ibrahim yang mewakili generasi tua begitu dekat dengan Allah. Meskipun beliau memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja yang ia mau, termasuk untuk menyembelih putranya, tetapi dengan bahasa yang santun hal itu disampaikan kepada putranya. Lebih-lebih, kedua orangtuanya begitu dekat dengan Allah.
Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as adalah sosok perempuan yang dekat dengan Allah SWT dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap putranya. Saat Ismail kecil kehausan ditengah padang pasir, Siti Hajar berlari mencari air minum dari bukit Sofa ke bukit Marwah berulang-ulang. Namun usaha itu tidak ditemui hingga akhirnya dari kaki Ismail keluarlah mata air yang jernih. Itulah air zam-zam yang menjadi oleh-oleh bagi jemaah haji hingga saat ini. Kejadian itu semua diabadikan dalam rangkaian kegiatan Haji di Tanah Suci. 
Anak adalah rantai generasi yang akan melanjutkan agenda orangtua. Jika kemuliaan tidak dibangun dan dicontohkan oleh orangtua kepada anak, lalu ke mana anak harus belajar tentang kebenaran. Justru dari orangtualah anak akan bisa mengabdikan kebenaran itu. Boleh jadi anak tidak taat kepada orangtua, tetapi percayalah bahwa anak akan selalu mengikuti perilaku orangtua. Jika orangtua bisa memberikan keteladanan, memberikan contoh-contoh perilaku yang mulia, maka anak akan mengikutinya. Sebaliknya, ketika nilai-nilai kemuliaan mulai ditinggal, bersamaan itu pula anak akan menjauh dari nilai-nilai kemuliaan.
Pendidikan anak menjadi persoalan yang perlu diseriusi. Perilaku anak cermin dari pendidikan yang dibangun oleh orangtua, baik yang ada di rumah maupun pendidikan di sekolah. Pendidikan di rumah menjadi tanggung jawab orangtua. Perilaku orangtualah yang banyak mewarnai perilaku anak. Sedangkan di sekolah, guru memegang peranan yang sangat strategis dalam membentuk perilaku anak. Anak yang sejak lahir memiliki kecenderungan berperilaku baik perlu dikawal dengan baik pula. Tentunya keteladanan sebagai kata kunci. Dengan demikian, kita akan melahirkan generasi seperti Nabi Ibrahim as yang melahirkan generasi Ismail as yang sama-sama memiliki komitmen ketaatan dalam mengabdikan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Momen Idul Adha perlu dijadikan pelajaran yang berharga. Khususnya bagi umat Islam dalam membangun generasi Islami. Generasi yang akan mewarisi semua agenda dalam membangun negara yang tercinta ini agar menjadi negara penuh wibawa dengan landasan nila-nilai kebenaran yang bersumber pada kitab suci. Amin.

 Semoga Bermanfaat   
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Keteladanan
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/10/keteladanan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment