Orang-orang Asing yang Beruntung

Posted by tri novi handono Thursday, October 31, 2013 0 comments
Akan ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan, Akan ada masa tatkala menunaikan keta'atan kepada Allah Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Teringatlah kita kepada sabda Nabi SAW "Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang asing." (HR Muslim).
Jika telah tiba masanya, yang sungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah SAW, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa ummat. Tapi sebagian besar manusia mengingkari. Hanya sedikit sekali manusia yang mendengar kata-katanya dan mengikuti apa yang dinasehatkannya.
Inilah masa ketika petunjuk yang terang dari nash (Al Qur'an & Sunnah) diabadikan. Nash diambil bukan untuk dalil, tapi untuk pembenaran. Inilah masa ketika orang banyak yang beramal  berdasarkan perkataan-perkataan orang yang pandai bicara, meski nyata bertentangan dengan nash. Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api. Nasehat Nabi Muhammad SAW :"Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api."(HR. Tirmidzi).
Agama ini terasing dari umat Islam, di antaranya bersebab semakin sedikitnya orang yang memberi nasehat dan peringatan. Inilah masa ketika majelis agama tak lagi memberi ilmu, nasehat dan peringatan. Bahkan keluh lidah para penceramah dari memperingatkan.
Inilah masa ketika orang-orang yang dijadikan anutan tak lagi memiliki muru'ah (kehormatan, wibawa). 'Izzah (harga diri, kehormatan) dahwah runtuh. Keduanya ditukar dengan tana'um (bermewah-mewah sebagai gaya hidup). Inilah masa ketika wahan (cinta dunia takut mati) dan waham merasuk kuat, seakan muru'ah hanya tegak dengan kemewahan dan penampilan. Inilah masa ketika majelis agama berubah menjadi hiburan dan senda gurau; memberi kesenangan tanpa menumbuhkan ketaqwaan.
Manusia berlomba memegah-megahkan masjid melebihi peruntukannya. Banyak yang ramai oleh manusia, tapi kosong dari hidayah. Yang seharusnya memberi nasehat dan peringatan tak memiliki 'izzah agama dalam dirinya, sehingga sibuk menampakkan diri menarik. Ia mengikuti mustami'in (audiens) dan tak berani menyampaikan perkara-perkara yang menyelisihi selera mustami'in. Hanya ada penuturan, tanpa peringatan. Banyak menahan nasehat bersebab senantiasa anggap ummat tidak siap, tapi tak pernah mempersiapkan mereka.
Adakah ini terjadi? Semoga belum. Ataukah ini masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas'ud? Masa ketika orang bertekun mendalami agama untuk dunia. Mereka bersemangat mendalami agama bukan untuk kepentingan agama, tetapi untuk meraup dunia.
Renungkanlah perkataan mulia 'Ali bin Abi Thalib ra sebagai diriwayatkan oleh Al-Hakim:
Diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian 'Umar bin Khattab ra berkata kepadanya,"Kapankah itu terjadi, wahai 'Ali?" 'Ali bin Abi Thalib ra menjawab: "Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat." (Riwayat A-hakim).
Perhatikanlah sejenak penjelasan menantu kesayangan Rasulullah SAW ini. Betapa berbedanya, di masa sahabat ra, mereka mencari kehidupan dunia untuk akhirat. Sementara di zaman fitnah, kehidupan dunia di cari bukan kepentingan akhirat. Bahkan sebagaimana diperingatkan oleh Ibnu Mas'ud ra, pada masa fitnah agama tersebut, manusia justru mengejar dunia dengan amal akhirat. Maka, kelak kita akan saksikan orang bersungguh-sungguh melaksanakan sholat Dhuha maupun sedekah karena ingin mengejar dunia. Seakan Allah Ta'ala tak akan melimpahkan harta kepada kita jika meminta sebelum melakukan keduanya. janganlah kita sebagai manusia yang tak putus mengerjakan sholat Dhuha, tapi Sholat Fadhunya diletakkan di belakang.  

Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Orang-orang Asing yang Beruntung
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/10/orang-orang-asing-yang-beruntung.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment