Showing posts with label Rumahtangga. Show all posts
Showing posts with label Rumahtangga. Show all posts

Ibu

Posted by Unknown Thursday, October 10, 2013 0 comments
Ibu adalah nama lain dari kasih sayang yang indah, yang diberikan Allah SWT sebagai rahmat bagi hamba-Nya. Ibu ibarat malaikat yang menjadi pelindung anak-anaknya dari setiap kejahatan yang akan menyakiti mereka. Bahkan ketika manusia terlahir tanpa dampingan seorang ibu, rasanya mereka akan siap menukar apapun yang dimilikinya demi kehadiran sang ibu tercinta. Maka tak heran jika seorang ibu selalu diagungkan kebaikannya, baik ketika dia masih ada ataupun sudah tiada.
Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan kedekatan antara seorang ibu dengan anak-anak mereka, sebagai suatu kemanusiawian. Setiap anak akan begitu nyaman berada di samping ibunya. Karena itulah, secara alamiah pula, anak-anak melihat ibu sebagai sosok panutan yang patut diikutinya. Seperti spons kering yang menyerap setiap air yang ada didekatnya, seperti itulah anak-anak dengan polos mencontoh cara berucap dan bersikap seperti para ibu mereka. 
Maka tak dipungkiri lagi, jika ibu ibarat guru pertama bagi anak-anak. Dengan ibu jugalah, anak-anak belajar mengenali dan mempelajari dunia ini. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai seorang ibu, agar kita pantas dijadikan tauladan yang baik untuk anak-anak kita?.

Pertama, menjadi ibu penuh kasih sayang.
Yang pertama dan utama jadilah ibu yang baik dan kasih sayang. Dari sikap terpuji inilah anak-anak akan mengenali dan mencontoh bahwa hanya kebaikan dan kasih sayanglah yang sebenarnya diperlukan jika mereka ingin selalu disayangi dan diterima kehadirannya oleh sesama. Sebaliknya, mereka juga akan belajar membedakan bahwa perbuatan jahat hanya akan menyakiti orang lain dan merugikan diri mereka sendiri.

Kedua, ramah dan menghargai orang lain.
Selain itu, ajarkan kepada anak bahwa setiap orang itu berbeda, dan kita harus menghargai perbedaan-perbedaan itu. Tanamkan pada diri anak-anak kita bahwa tidak seorang pun senang diperlakukan kasar. Maka ucapan terima kasih, tolong, dan maaf, harus dibiasakan sejak mereka kecil, agar terpola dalam pikiran anak bahwa sikap ramah adalah hal penting yang dibutuhkan untuk menjalin sebuah persahabatan.

Ketiga, tegas dalam berprinsip.
Kenalkan pada anak-anak kita bahwa di dunia ini juga ada hal yang tidak bisa kita tawar tentangnya. Sebagai contoh adalah masalah akidah. Kenalkan kepada mereka berikut alasannya tentang kepastian dan kepatenan nilai-nilai tersebut untuk harus selalu kita patuhi.

Keempat, luangkan waktu untuk komunikasi yang hangat.
Jika kita mengharapkan anak akan patuh, maka komunikasi yang hangat dari kita sebagai ibu, sangat penting untuk dilakukan. Dan dalam berkomunikasi, anak dan ibu juga membutuhkan banyak waktu. Maka sudah seharusnya kita menyediakan waktu untuk membangun hubungan yang berkualitas dengan anak-anak mereka.
Tunjukkan kepada anak bahwa dengan berkomunikasi, kita dapat menjadi partner mereka yang baik dalam mencari kebaikan. Jika akhirnya nasehat harus diberikan, maka biarkan terlebih dahulu mereka mengemukakan ide dan pikiran mereka, dan jangan beri batasan agar mereka juga tidak mengambil jarak dengan kita. Dengan itu Insya Allah mereka akan menjadikan kita sebagai contoh, karena kemampuan kita menjadi pendengar yang merangkul dan mengayomi mereka, saat mereka susah.

Kelima, bersikap positif.
sebagai seorang ibu, hendaknya kita berhati-hati dalam bersikap dan berucap. Anak-anak kebanyakan akan meniru materi, pemikiran, bahkan gaya bicara kita, terutamabila mereka berada didekat kita. Pembicaraan dan sikap yang positif akan memberikan contoh yang baik pula bagi mereka, agar kelak menjadi pribadi yang positif.

Keenam, konsisten
Dari semua sikap yang kita berikan kepada anak-anak kita tersebut, maka tak akan ada gunanya jika kita sendiri tidak konsisten dengan yang telah kita ajarkan. Pencontohan sikap baik yang terus menerus dan konsisten, akan lebih mudah terbahasakan kepada anak ketimbang hanya sekedar nasehat atau kata-kata yang kita suarakan ke telinga mereka.

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Tipe Kepribadian Anak

Posted by Unknown 1 comments
Untuk dapat memberikan pendekatan yang tepat ke setiap anak, orangtua dan pendidik perlu mengetahui tipe-tipe kepribadian anak. Kepribadian ialah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita. Kepribadian dibagi menjadi empat tipe besar, yaitu : Korelis, Sanguinis, Phlegmatis dan Melankolis.

Korelis
Korelis mewakili tipe kepribadian yang tegas dan kemudian cenderung untuk memimpin. Ciri-cirinya "to the point". Dia ingin segala sesuatunya cepat dan dilakukan saat itu juga, bisa menjadi terlalu dominan serta mengatur, mengontrol, sehingga orang lain bisa tidak tahan. Karena dia ingin segala sesuatunya dilakukan dengan sangat cepat, dia bisa jadi lupa beberapa detail tentang hal penting yang harus dilakukan.
Seorang anak koleris, biasanya memiliki motivasi yang kuat dari dalam. Jika ingin mengarahkan mereka, tunjukkan keuntungan bagi anak jika mereka melakukan hal tersebut.

Sanguinis
Sanguinis ialah orang yang cerah, ceria, bisa mendengar suaranya jauh sebelum melihat orangnya.
Sanguinis ialah orang yang senang menjadi perhatian. Seorang anak sanguinis merupakan anak yang sangat senang sekali bermain dan berkumpul dengan banyak teman-temannya. Senang dangan aktivitas "outdoor" atau kebersamaan yang menyenangkan. Untuk mengarahkan dia, tunjukkan betapa menyenangkannya kegiatan yang akan dilakukan.

Melankolis
Melankolis ialah seorang yang rapi, biasanya tulisannya rapi, lengkap, dan detai. Ciri-ciri anak melankolis yang sangar tampak adalah anak ini sangat teratur dan rapi. Seringkali secara akademis anak melankolis adalah anak yang cerdas dan pandai. Anak melankolis sangat suka "mengontrol" semuanya sendiri. Terkadang menentukan pakaian yang akan dipakainya, makan apa sore ini, dan sebagainya. Mereka terkadang suka mengingatkan kita, jika keluar kamar lampu dimatikan, TV atau laptop dimatikan.

Phlegmatis
Phlegmatis adalah kepribadian yang suka melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan yang telah diberikan. Phlegmatis sangat setia dan bisa dipercaya untuk memegang rahasia. Anak Phlegmatis lebih suka menghindari konflik dan seringkali merelakan peralatan tulisnya untuk dipinjam serta tak jarang terkadang merasa tidak enak untuk memintanya.

Tipe Koleris dan tipe Sanguinis adalah tipe yang Extrovert, tipe yang terbuka kepada orang. Sebaliknya, tipe Melankolis dan tipe Phlegmatis adalah tipe kepribadian yang Introvert, tipe tertutup.
Satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada tipe kepribadian yang lebih baik dari pada tipe yang
lainnya. Kita semua mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur Phlegmatis, ada unsur koleris, dan ada unsur sanguinis-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari lainnya.
Dengan mencari tahu tipe kepribadian anak, maka berarti kita membangun komunikasi yang lebih baik dengan anak, mengetahui kekuatan, kelemahan serta bagaimana mengarahkannya.

Semoga Bermanfaat
 

Baca Selengkapnya ....

Keteladanan

Posted by Unknown Saturday, October 5, 2013 1 comments
Hadirnya Hari Raya Idul Adha tidak pernah bisa dilepas dari sejarah perjalanan dan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dua generasi, orangtua dan anak ini mampu bersinergi di dalam menjalankan ketaatan untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati. Hal ini ditunjukkan pada saat menghadapi perintah Allah yang cukup berat.
Perintah itu telah diabadikan Allah di dalam surat as-Shaffat ayat 102,"Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku, bahwa aku menyembelih engkau, maka perhatikanlah bagaimana pendapatmu?" Anaknya menjawab, "Wahai ayahku, kerjakan apa yang diperintahkan Allah, ayah akan mendapati bahwa aku berhati sabar, insya Allah"
Dialog di atas merupakan cermin ketulusan dan keluhuran pribadi yang menjadi teladan dari dua generasi. Generasi tua yang ditunjukkan oleh seorang ayah yang bijaksana, Nabi Ibrahim as, dan generasi muda yang ditunjukkan oleh seorang anak yang memiliki kepatuhan , Nabi Ismail as.
Sebuah keteladanan yang saat ini hampir sulit ditemui di dalam keluarga, adalah membangun komitmen ketaatan. Ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan yang memang menjauhkan manusia untuk mendekat kepada Allah, terutama dalam membimbing putra-putri tercinta. Selain itu, kesibukan tentang mengejar dunia, sering kali lupa tugas utama sebagai hamba Allah untuk senantiasa mengabdi kepadaNya.
Berapa kali kita lalui Idul Adha dan berapa kali kita merenungi hikmah di balik kisah yang penuh makna ini. Lalu bagaimana kualitas hidup saat ini? Terutama dalam membangun keluarga yang senantiasa memiliki komitmen untuk taat kepadaNya. Apakah kehidupan kita meningkat, tetap seperti sebelumnya,atau justru kualitas iman semakin menurun?
Sudah saatnya kita berguru pada nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Raya Idul Adha. Perilaku kesabaran dan kesadaran dalam berkorban untuk memenuhi panggilan Allah. Kegiatan ini bukan sekedar simbol formalitas, tetapi wujud pengorbanan yang tulus ikhlas sebagai bentuk ketaatan untuk menghambakan diri padaNYa.
Ikhlas memang kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan dengan baik. Namun demikian perlu untuk tetap diusahakan, karena bagaimana pun juga ikhlas menjadi penentu dalam setiap perilaku. Ikhlas tumbuh dari sebuah niat, karena niat sebagai pengikat amal manusia. Ketika niat sudah salah, maka hasilnya akan bermasalah.
Seorang ulama, Sufyan ats-Tsauri pernah berkata,"Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niat, karena begitu seringnya niat itu berubah-ubah." Ini artinya, kita bisa tetap waspada terhadap niat kita. Begitu ada perubahan niat yang mengarah pada hal-hal yang kurang baik, maka segeralah untuk diluruskan.
Kembali pada persoalan sinerginya dua generasi, generasi tua dan generasi muda. Ismail sebagai wakil generasi muda menjadi sosok manusia yang memiliki kepatuhan terhadap orangtua. Ini tidak lain dikarenakan orangtua yang bisa menjadi teladan. Ibrahim yang mewakili generasi tua begitu dekat dengan Allah. Meskipun beliau memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja yang ia mau, termasuk untuk menyembelih putranya, tetapi dengan bahasa yang santun hal itu disampaikan kepada putranya. Lebih-lebih, kedua orangtuanya begitu dekat dengan Allah.
Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as adalah sosok perempuan yang dekat dengan Allah SWT dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap putranya. Saat Ismail kecil kehausan ditengah padang pasir, Siti Hajar berlari mencari air minum dari bukit Sofa ke bukit Marwah berulang-ulang. Namun usaha itu tidak ditemui hingga akhirnya dari kaki Ismail keluarlah mata air yang jernih. Itulah air zam-zam yang menjadi oleh-oleh bagi jemaah haji hingga saat ini. Kejadian itu semua diabadikan dalam rangkaian kegiatan Haji di Tanah Suci. 
Anak adalah rantai generasi yang akan melanjutkan agenda orangtua. Jika kemuliaan tidak dibangun dan dicontohkan oleh orangtua kepada anak, lalu ke mana anak harus belajar tentang kebenaran. Justru dari orangtualah anak akan bisa mengabdikan kebenaran itu. Boleh jadi anak tidak taat kepada orangtua, tetapi percayalah bahwa anak akan selalu mengikuti perilaku orangtua. Jika orangtua bisa memberikan keteladanan, memberikan contoh-contoh perilaku yang mulia, maka anak akan mengikutinya. Sebaliknya, ketika nilai-nilai kemuliaan mulai ditinggal, bersamaan itu pula anak akan menjauh dari nilai-nilai kemuliaan.
Pendidikan anak menjadi persoalan yang perlu diseriusi. Perilaku anak cermin dari pendidikan yang dibangun oleh orangtua, baik yang ada di rumah maupun pendidikan di sekolah. Pendidikan di rumah menjadi tanggung jawab orangtua. Perilaku orangtualah yang banyak mewarnai perilaku anak. Sedangkan di sekolah, guru memegang peranan yang sangat strategis dalam membentuk perilaku anak. Anak yang sejak lahir memiliki kecenderungan berperilaku baik perlu dikawal dengan baik pula. Tentunya keteladanan sebagai kata kunci. Dengan demikian, kita akan melahirkan generasi seperti Nabi Ibrahim as yang melahirkan generasi Ismail as yang sama-sama memiliki komitmen ketaatan dalam mengabdikan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.
Momen Idul Adha perlu dijadikan pelajaran yang berharga. Khususnya bagi umat Islam dalam membangun generasi Islami. Generasi yang akan mewarisi semua agenda dalam membangun negara yang tercinta ini agar menjadi negara penuh wibawa dengan landasan nila-nilai kebenaran yang bersumber pada kitab suci. Amin.

 Semoga Bermanfaat   

Baca Selengkapnya ....

Barokah Keluarga

Posted by Unknown Thursday, September 5, 2013 1 comments
Bukan harta yang menyebabkan duka atau bahagia, tetapi jiwa kita. Bukan sempat yang menyebabkan kita mampu menjalin hubungan yang lebh erat dengan istri atau suami kita,tetapi selarasnya kondisi ruhiyah kita. Sebab sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SAW, ruh itu seperti pasukan. Mereka akan mudah bersatu dan cenderung mendekat dengan yang serupa. Sebaliknya akan mudah berselisih, meski senyum masih mengembang di wajah mereka. Hati gelisah, jiwa resah, ketenangan tak lagi kita rasakan dan pelahan-pelahan kita mulai mengalami kehampaan jiwa. Ketika itu terjadi, banyak hal yang tak terduga yang bisa muncul. Kita bisa mencari "jalan keluar" yang justru semakin menjauhkan satu sama lain, meski masih tinggal serumah, masih sama-sama aktif di kegiatan dakwah yang sama.

Maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya bagaimana cara berkomunikasi efektif antara suami-isteri; bukan pula semata soal bagaimana kita memberi perintah yang menggugah kepada anak-anak kita. Lebih dai itu, ada yang perlu kita periksa, adakah ruh kita saling bersesuaian satu sama lain ataukah jusru sebaliknya saling berseberangan. Boleh jadi kita bertekun-tekun dan saling melakukan kegiatan yang sama-sama penuh kebaikan, tetapi niat yang mengantarkan dan mengiringi berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda. Sesungguhnya tiap-tiap kiata akan memperoleh sesuatu niat yang menggerakkan kita melakukan sesuatu. Sama kegiatan yang kita lakukan, beda niat yang senantiasa menyertai, akan membawa kondisi ruhiyah kita pada keadaan yang berbeda. Itu sebabnya, meski sama-sama bertekun dengan kebaikan yang sama, keduanya dapat menuju tataran ruhiyah yang berbeda atau bahkan saling berseberangan.

Sesungguhnya tiap amal atau ibadah yang kita kerjakan, meski cara sama-sama benar sesuai yang digariskan, niat melakukannya dapat termasuk :

1. Ikhlas karena Allah dan hanya berharap ridha Allah.
2. Ikhlas karena Allah, tap tujuannya dunia (syirik niat).
3. Tidak ikhlas.
    - Riya' dan tidak mencari dunia.
    - Riya' dan mengharap dunia dari amalnya.
4. Tidak karena Allah, tidak untuk akhirat, tidak pula untuk dunia.

Hanya niat ikhlas karena Allah SWT dan akhir tujuannya yang dapat menjadikan hidup kita serta keluarga kita penuh barokah.
Maka agar rumah-tangga berlimpah barokah, suami-istri perlu saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga amalnya dari cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan dienul Islam.  Inilah yang perlu kita renungi. Inilah yang perlu kita telisik dalam diri kita dan keluarga kita. Jika apa yang sepatutnya kita kerjakan telah kita penuhi, jika komunikasi sudah kita jalin dengan baik, tetapi hati kita gersang meski tak ada perselisihan, maka inilah saatnya kita menelisik niat dan menjalani kehidupan rumah-tangga.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah SWT berfirman: Katakanlah:"Sesungguhnya sholat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikan itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."(QS. Al-An'aam,6:162-163).

Tidak mungkin hidup kita-termasuk keluarga kita-hanya untuk Allah SWT jika sholat dan ibadah kita saja bukan untuk Allah SWT. Sesudahnya, kita perlu periksa rezeki yang kita dapatkan, adakah ia penuh barokah atau justru sebaliknya tak ada barokah sedikit pun di dalamnya? Atas setiap rezeki yang barokah, bertambahnya membawa kebaikan yang semakin besar dan berkurangnya tidak menciutkan kebaikan. Mungkin mata kita melihatnya berat, tapi ada ketenangan dan kebahagiaan pada diri mereka, meski mereka nyaris tak pernah bersenang-senang. Sebaliknya jika rezeki tak barokah, bertambahnya semakin menjauhkan hati mereka satu sama lain. Sedangkan berkurangnya membawa hati kita saling bertikai, meski tak ada pertengkaran, atau sekurang-kurangnya menyebabkan terjauhkan dari kebaikan.


Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Jangan Salahkan Anak

Posted by Unknown 1 comments

Ironis. Mungkin kata inilah yang pantas diucapkan saat kita menyaksikan semakin meningkatnya kasus-kasus kriminal yang melibatkan anak-anak berusia dibawah umur. Mulai dari kasus pencabulan, pelecehan, pemerkosaan, bahkan sampai berujung pembunuhan dengan korban anak-anak. Belum lain kasus-kasus kejahatan seksual yang pelakunya justru anak-anak dan remaja.
Hal ini sejalan dengan perkembangan kasus kejahatan di Indonesia saat ini yang menonjol merupakan kasus kekerasan seksual pada ana. Yang mengkhawatirkan dan membuat miris adalah mengapa tingginya angka kekerasan seksual ini tidak menimbulkan reaksi masyarakat?
Coba bandingkan reaksi masyarakat terhadap kekerasan seksual di India, yang dalam budayanyamasih mendiskriminasi kam perempuan saja, masyarakatnya bisa tergugah dan bergerak untuk menggugat bahkan menekan pemerintah untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak.
Kasus pemerkosaan seorang mahasiswi yang berujung kematian sang korban membuat masyarakat India turun ke jalan menuntut keadilan dan perlindungan bagi kaum perempuan dan anak-anak. Bagaimana dengan negeri ini? Jangan sampai masyarakat menjadi "mati rasa" dan menganggap berbagai pemberitaan mengenai kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak hanya sebagai berita saja.
Semestinya, media punya peran lebih aktif dan signifikan dalam masyarakat daripada sekedar hanya pemberitaan saja. Media dalam pemberitaan sebaiknya tidak hanya memosisikan pelaku (anak-anak remaja) sebagai pihak yang harus diadili secara hukum dan moral sendirian.
Namun media juga perlu mengkritisi peran orangtua para pelaku sebagai pengasuh utama anak-anak mereka. Apa saja yang sudah dilakukan orangtua-orangtua ini hingga anaknya bisa mencuri, melecehkan, kecanduan, pornografi, kecanduan narkoba, memerkosa, bahkan membunuh orang lain?

Fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini akibat beberapa hal, yaitu :
  1. Para orangtua tidak siap dan tidak pandai dalam mengemban amanah sebagai orangtua. Masih banyak orangtua yang enggan, bahkan cenderung kurang peduli dalam membangun komunikasi yang baik dan menyenangkan dengan anak-anak mereka. Yang terjadi akhirnya, anak mencari perhatian dan kenyamanan diluar rumah.
  2. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan dirumah, Kenakalan anak-anak dan remaja yang terjadi di masyarakat kebanyakan dilakukan oleh anak laki-laki, Mangapa? Karena anak laki-laki tidak mendapatkan role model atau teladan dari para ayah mereka dirumah. Anak laki-laki tidak dijadikan prioritas untuk dididik sebagai anak yang memiliki rasa tanggung jawab dan dididik sebagai orang yang kelak akan menjadi kepala orang tua.
  3. Kurangnya intropeksi para orangtua terhadap diri sendiri. Andai setiap orangtua mau sejenak merenung mengenai peran dan tanggungjawab serta mampu menganalisa kekurangan dirinya sendiri, tentulah komunikasi pengasuhan anak yang baik dan benar akan diutamakan menjadi prioritas.
  4. Kurangnya kesadaran dan pemahaman bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus kita besarkan, asuh, dan didik dengan benar serta baik sesuai agama maupun keyakinan kita masing-masing. Dan kelak, setiap orangtua harus mempetanggungjawabkan hal ini pada Sang Pencipta.       

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Peran Aktif Media yang bermanfaat

Posted by Unknown Monday, September 2, 2013 2 comments
Media sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini, terutama media televisi, radio hingga media sosial. Bahkan, secara umum dari sekitar jutaan keluarga di Indonesia, hampir semua dapat dikatakan memiliki dan menjadi konsumen media (terutama televisi).
Seperti yang kita ketahui, industri penyiaran di Indoneia yang berkembang pesat membidik spetrum konsumen yang sangat luas. Hal ini terlihat dari hadirnya ratusan televisi swasta dan ribuan radio swasta di Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini kesadaran publik sebagai konsumen masih belum cukup baik dan belum seimbang dengan perkembangan media yang ada. Dan ironisnya lagi, anak-anak dan perempuan sebagai konsumen sekaligus menjadi korban dari program-program media. Hal ini terjadi tak lepas dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap media. berdasarkan survey dan berita zaman sekarang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang luar biasa tinggi pada kasus-kasus kekerasan seksual, pornografi, inses hingga pembunuhan. Kasus-kasus yang melibatkan anak-anak dibawah umur dan perempuan ini terjadi hampir merata diseluruh propinsi Indonesia.
Pemberitaan yang dilakukan meia saat peliputan kasus-kasus perkosaan, pelecehan seksual, mutilasi serta inses tersebut sangat mungkin di contoh dan ditiru oleh anak-anak maupun remaja. Apalagi jika pemberitaannya menggambarkan detil rekonstruksi bagaimana si pelaku melakukan kejahatan tersebut. Belum lagi tayangan program-program yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan lainnya yang berpotensi merusak otak anak-anak dan remaja Indonesia.
Seorang anak yang mata dan otaknya sudah terkontaminasi oleh suguhan materi kekerasan dan pornografi berpotensi besar mengalami kerusakan otak. Kerusakan otak persisnya pada bagian Pre Frontal Crtex (PFC) mengakibatkan anak memiliki adiksi terhadap perilaku negatif, tidak bisa mengendalikan tingkah lakunya akibat dorongan kebutuhan hawa nafsunya meningkat, serta mencari cara untuk menyalurkannya tanpa mengerti konsekuensi yang ditimbulkan.
Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena PFC merupakan pengendali impuls-impuls syaraf pada otak. Antara lain sebagai pengendali hawa nafsu dan emosi, pusat pembuat perencanaan dan pembuat kebijakan. PFC merupakan direkturnya otak manusia. PFC pula yang membedakan antara manusia dengan hewan.
Untuk itu, dibutuhkan peran pemerintah dalam melakukan pengawasan atau kontrol yang cukup pada media. Karena dewasa ini ada begitu banyak program acara media (televisi khususnya) yang kurang bahkan tidak memiliki kualitas, manfaat dan nilai edukasi. Dari sekian banyak saluran televisi rata-rata hampir seluruh media memiliki program acara yang nyaris sama demi mengejar rating.
Dalam dunia media di Indonesia saat ini, pencapaian rating masih menjadi tolak ukur utama kesuksesan sebuah program acara, bukan karena kualitas program tersebut. Produk-produk televisi yang dibuat dengan tergesa-gesa tanpa memperhitungkan kualitas, nilai-nilai juga dampak buruk yang akan ditimbulkan, sesungguhnya adalah produk yang amat membahayakan dan merusak generasi muda Indonesia karena tidak mempertimbangkan kelas usia dan kelas sosial konsumennya.
Untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan mental pada masyarakat terutama anak-anak dan remaja, dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk terlibat. Selain keluarga sebagai pengasuh yang membesarkan anak-anak secara benar, baik dan menyenangkan, sekolah sebagai tempat belajar yang memberi ruang untuk anak tumbuh optimal sesuai keunikannya masing-masing, media bisa mengambil peran aktif melalui informasi dan tayangan-tayangan acara yang berkualitas, mendidik, bermanfaat tanpa mengabaikan nilai-nilai yang kita yakini.


Semoga Bermanfaat      

Baca Selengkapnya ....

Pendidikan Bagi Muslimah

Posted by Unknown 1 comments
Secara garis besar, seorang muslimah memiliki tiga peranan penting dalam hidupnya. Yang pertama, sebagai hamba Allah SWT. Kedua, perannya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Dan yang ketiga, perannya didalam masyarakat. Sehingga tak dapat dipungkiri lagi bahwa peran muslimah dalam kehidupan ini begitu penting.
Dalam menjalankan perannya tersebut, seorang muslimah harus memiliki ilmu pengetahuan agar dapat melaksanakannya dengan baik. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka ada berbagai cara. Salah satunya adalah dari pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan dunia saja, melainkan juga pendidikan akhlak dan akhirat.
Bagi muslimah, pendidikan yang didapat merupakan bekal dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini. Setidaknya, seorang muslimah dapat memperbaiki dirinya sendiri, kemudian memberikan ilmunya kepada anaknya, keluarga, tetangganya serta masyarakat sekitar. Sehingga ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat untuk orang banyak.
Dalam hal ini, Aisyah ra. patut menjadi contoh dalam ilmu pengetahuan agamanya yang dalam. Aisyah ra. dididik oleh Rasulullah SAW sehingga membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT dan mengajarkan ajaran Islam kepada wanita luhur dan bertaqwa. 
Semangat Aisyah ra. dalam belajar dn memahami ilmu agama sudah terbukti. Bahkan, setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak sedikit para sahabat yang meminta keterangan tentang kebenaran sebuah hadits kepada Aisyah ra. Dalam kisah lain, para muslimah generasi terdahulu juga bersemangat dalam menuntut ilmu."Seorang wanita mendatangai Rasulullah SAW dan berkata,"Wahai Rasulullah!Kaum lelaki telah membawa haditsmu, maka jadikanlah kami satu harimu yang kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu,"Maka beliau bersabda:"berkumpullah pada hari ini dan di tempat ini."Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah SAW mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau".(HR Bukhori dan Muslim).
Berdasarkan kisah tersebut, maka hak dan kesempatan baik bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pendidikan adalah sama. Keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, sehingga dalam menjalankan hal tersebut dibutuhkan ilmu agar dapat terlaksana dengan baik.
Semoga para muslimah tidak pantang menyerah untuk terus menuntut ilmu, karena Allah SWT akan memuliakan kita serta mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firman-Nya:"..Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Mujadilah:11).


Semoga Bermanfaat

  

Baca Selengkapnya ....

Perlunya Mendampingi Anak

Posted by Unknown 1 comments
Tahun ajaran baru bagi orangtua yang akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah baru, memasuki awal tahun adalah waktu dimulainya kesibukan mempersiapkan kebutuhan si kecil untuk bersekolah.
Urusan sekolah memang bukan saja beban bagi anak-anak, namun juga beban bagi para orangtua. Selain mempersiapkan segala kebutuhan untuk sekolah seperti peralatan dan seragam, hal yang terpenting untuk disiapkan oleh orangtua adalah mental set anak.
Orangtua harus membantu setiap anaknya, agar mereka siap mental begitu memasuki sekolah atau kelas baru. Mengapa begitu? Karena baik anak yang memasuki sekolah baru, misalnya dari TK ke SD atau dari SD ke SMP, maupun anak-anak yang pindah (naik) kelas, mereka pasti membutuhkan waktu untuk beradaptasi yang cukup.

Untuk anak-anak yang akan memasuki sekolah baru, dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk beradaptasi. Karena mereka harus menyesuaikan diri dengan 7 aspek :
  1. Teman baru yang belum dikenalnya.
  2. Lingkungan sekolah baru. Anak-anak memerlukan adaptasi dengan cara tempuh menuju sekolah, berapa lama waktu tempuh.
  3. Beberapa guru atau wali kelas baru yang harus dikenali dan dipelajari karakternya oleh anak, untuk penyesuaian diri mereka saat belajar.
  4. Jarak rumah - sekolah.
  5. Fasilitas gedung sekolah, seperti kamar mandi, ruang kelas, musholla, kantin dan fasilitas lainnya.
  6. Peraturan sekolah.
  7. Peraturan kelas. Beruntung  jika anak, mendapatkan guru atau wali kelas yang bijak, dapat mengajak atau melibatkan siswa kelasnya dalam membuat peraturan kelas. Namun, bagaimana kelas dengan peraturan yang sudah ditetapkan oleh guru secara turun menurun? Tentu perlu penyesuaian tersendiri.
Sedangkan untuk anak yang baik kelas, waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi adalah sekitar 2-3 bulan. Karena meskipun ada beberapa teman baru, mereka umumnya tetap berada pada lingkungan sekolah yang sama.
Meski begitu, waktu adaptasi tersebut tetap tergantung pada usia masing-masing anak serta kondisi lingkungan sekolah dengan sistem belajar dan kurikulumnya.
Pada anak yang memiliki kebutuhan bergerak banyak, sedangkan sekolah menuntut siswa-siswanya untuk duduk, diam dan mendengarkan sepanjang pelajaran dalam kelas, tentu menjadi tantangan tersendiri. Bisa jadi metode pelajaran seperti itu kurang cocok, sehingga orangtua perlu memperhatikan dengan seksama kebutuhan belajar yang tepat bagi anak-anaknya.
Persoalan ini menjadi lebih kompleks jika anak memasuki sekolah baru bersamaan dengan ia memasuki usia remaja. Karena ia memerlukan adaptasi ditengah masa ia sedang mengalami perubahan hormon pada tubuhnya, yang bisa mengakibatkan timbulnya kekacauan emosi, serta perubahan pola pikir dari berpikir secara abstrak.
Perubahan pola pikir dan hormonal ini sama sekali tidak diketahui dan dikenali oleh anak itu sendiri. Sehingga dibutuhkan pendampingan penuh orangtua untuk membantu anak agar bisa melalui masa-masa sulit.
Selain itu, orangtua sebaiknya melakukan kunjungan untuk mengumpulkan informasi tentang sekolah baru anak-anaknya dengan berkenalan pada guru-guru dan kepala sekolah. Orangtua wajib melakukan persiapan khusus untuk pribadi anak. Yaitu kesiapan memberikan pendampingan dan kemampuan memahami perasaan anak (ketika anak banyak mengeluh tentang berbagai kesulitan yang dihadapinya disekolah baru). Untuk itu, semua diperlukan komitmen orangtua dalam bentuk "keinginan" dan "waktu".

Semoga Bermanfaat   

Baca Selengkapnya ....

Cinta dan Logika

Posted by Unknown Saturday, August 31, 2013 1 comments
Anak yang sedang memasuki usia remaja biasanya mulai menunjukkan sikap memberontak dan menuntut banyak perhatian dari kedua orang tuanya. Seiring dengan itu terjadi juga perubahan dalam diri anak-anak kita, baik anak laki-laki maupun perempuan.

1. Perkembangan Otak.
Memasuki usia remaja otak anak berkembang dengan sangat pesat, dari awalnya mereka berfikir konkrit (berfikir dengan cara melihat objek), kini mereka juga bisa berfikir secara abstrak (mampu mengolah kata-kata yang diterimanya). Kemampuan analisa sintesa dan aspek-aspek berfikir anak berkembang secara penuh.

2. Hormon.
Hormon testosteron pada tubuh anak berkembang 20 kali lebih cepat menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Seperti wajah berminyak, tungkai kaki memanjang, tumbuh bulu-bulu halus, hidung membesar dan sebagainya. Sayangnya, belum tentu semua anak bisa menerima perubahan-perubahan ini sehingga dapat menimbulkan kekacauan emosi pada anak.

Kekacauan emosi atau emosi yang berayun, biasanya ditandai dengan banyaknya keluhan yang dirisaukan oleh anak. Antara lain ketidakpuasan terhadap dirinya, lingkungan, ditambah beban-beban pelajaran di sekolah dengan jam belajar yang panjang, juga les-les tambahan yang membuat anak sulit memiliki waktu santai. Hal ini meningkatkan rasa cemas berkepanjangan dalam dirinya.
Ketika saat cemas itu datang, aliran gelombang otak anak, yang normalnya 10 putaran perdetik, meningkat menjadi 25 putaran perdetik. Hal ini mengakibatkan sel-sel otak anak pada Pre Frontal Cortex (PFC), bagian otak yang berada di depan, persisnya terletak di atas mata menjadi kelelahan. Kelelahan pada PFC ini pada akhirnya akan mematikan ribuan bahkan jutaan sel pada otak anak, karena otak tidak di desain untuk menanggung stres dalam waktu lama. Lalu bagaimana menyelamatkan anak remaja kita?
Dibutuhkan 2 L untuk para orang tua agar bisa menerima, memahami dan menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri anak-anak kita saat beranjak remaja, yakni :

Cinta
Bangun ikatan hubungan emosional dan komunikasi dengan anak berlandaskan cinta. Anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan perasaannya agar emosi yang sedang ia alami bisa mengalir. Sebagai orang tua, mendengarkan keluhan anak tidak hanya membutuhkan sepasang telinga, tapi juga membutuhkan hati, jiwa dan mata kita. Dengan perhatian penuh, anak merasa mendapatkan perhatian yang dibutuhkannya. Sehingga ia membangun kepercayaan pada orang tua untuk menjadi tempat berkeluh kesah tentang apa yang mereka rasakan dan beban-beban yang menghimpitnya.
Komunikasi yang membutuhkan hati, jiwa, mata dan telinga ini merupakan syarat utama orang tua agar bisa memeriksa setiap fase pertumbuhan psikologi dan fisik anak-anak remajanya. Sebagai contoh, faktor asupan makanan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak. Anak-anak yang sering makan makanan cepat saji cenderung akan menjadi gemuk. Pada anak laki-laki, kegemukan bisa menyebabkan ukuran alat kelaminnya tidak sebesar ukuran normal anak seusianya. Nah, jika sejak kecil kita tidak terbiasa membangun komunikasi yang hangat, bagaimana kita bisa tahu bahwa remaja kita cemas tentang ukuran alat kelaminnya yang berbeda dari teman-temannya? Padahal disisi lain, masalahnya ini ternyata sebenarnya juga membutuhkan pengobatan medis sejak dini sebelum mereka memasuki usia remaja.
Keterbatasan waktu seringkali menjadi kendala bagi banyak orang tua untuk bisa mendengarkan perasaan-perasaan anak secara penuh. Apalagi bagi orang tua yang bekerja, biasanya saat pulang kerja sudah kehabisan energi. Belum lagi jika ada pekerjaanyang dibawa pulang dan harus diselesaikan sesegera mungkin. Kondisi ini memaksa anak harus berebut perhatian dengan tugas-tugas kantor orang tuanya, bahkan gedget yang selalu dalam genggaman sang ayah dan ibu.
Sebaiknya, saat memasuki rumah para orang tua menyiapkan diri dan tubuh untuk memberi perhatian pada anak. Singkirkan semua masalah-masalah kantor dan aneka gedget sejenak saja untuk memberi waktu pada anak kita berbicara.

Logika.
Mengasuh anak tidak cukup hanya mengandalkan cinta, namun juga membutuhkan logika yang menuntut komitmen dan kerja keras. Dengan perkembangan otaknya secara penuh, kita juga harus mendidik dan mengajarkan mereka tentang tanggung jawab dan mengenalkan anak-anak pada rasa kecewa, sakit, sedih dan jatuh bangun. Jika anak dibiasakan hidup dengan aman dan sempurna, mereka akan kesulitan belajar memahami penderitaan. Karena bentuk-bentuk penderitaan di atas merupakan salah satu bentuk pelajaran tentang hidup. Kenalkan juga anak sikap tanggung jawab dan konsekuensi dari semua perilakunya.
Saat anak sedang belajar tentang rasa sakit atau kecewa, orang tua harus berperan sebagai jaring pengaman emosi bagi anak. Dampingi dan bantu mereka bangkit dari rasa sakit. Beri mereka kesempatan belajar menentukan pilihan-pilihan dalam mengatasi masalahnya dan mengerti setiap konsekuensi yang timbul atas keputusannya. Dengan begini kelak saat anak beranjak dewasa mereka bisa mempunyai sikap dan integritas.
Jadi, mari kita bangun komunikasi yang baik dan hangat berlandaskan cinta, sehingga kita bisa menjadi jaring pengaman emosi bagi anak-anak remaja. Keberhasilan mereka mengatasi gejolak emosinya dimasa remaja akan membentuk karakter mereka kelak di masa depan. 

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Tips Memilih Sekolah Anak

Posted by Unknown Thursday, August 29, 2013 0 comments
Mau sekolah dimana ya? Mau kita sekolahkan dimana? Gurunya galak nggak ya? Kurikulumnya mendukung tumbuh kembang anak nggak ya? Sekolahnya bersih nggak ya?
Ya, tahun ajaran baru telah tiba. Kita sebagai orang tua mulai disibukkan dengan beberapa pilihan sekolah. Banyak pilihan, mulai baliho, leaflet, spanduk dan brosur dari lembaga-lembaga pendidikan semakin menambah bingung. Fasilitas yang ditawarkan serta keunggulan yang ditampilkan seperti berlomba-lomba menyapa para calon wali murid. Masing-masing berlomba-lomba menawarkan kelebihan yang dimilikinya.

Berikut tips memilih sekolah anak yang Insya Allah akan membantu kita :
1. Satukan Visi Dengan Pasangan.
Satukan visi dulu dengan pasangan kita. Mau diarahkan kemana pendidikan anak. Tentu harapannya sekolah yang lebih mengembangkan sisi spiritualitas. Percuma nilai akademiknya bagus tapi tidak hormat kepada orang tua. Percuma IQ-nya tinggi tapi selalu membuat orang tua malu akibat perbuatan jeleknya. Yang kita perlukan adalah, sekolah yang tidak hanya mengajarkan dan mendidik anak-anak pintar secara akademik, tapi juga anak yang mau mendoakan kita sebagai orang tuanya.

2. Perhatikan Jarak Sekolah.
Sebisa mungkin, carilah sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Selain si buah hati tidak bosan di jalan dan mengalami kelelahan, serta energinya tidak akan habis terkuras karena harus berlama-lama di jalan. Hal ini juga akan menghemat biaya yang kita keluarkan untuk transportasi.

3. Fasilitas.
Perhatikan apakah sekolah tersebut memiliki fasilitas yang dibutuhkan buah hati kita. Selain itu, sekolah yang baik adalah yang memberikan waktu lebih banyak untuk siswanya mengeksplorasi bahan-bahan pelajarannya sambil bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Bukan sekolah yang mengharuskan siswanya terus menerus duduk dalam kegiatan belajar. Dengan begitu, perasaan nyaman ini akan memungkinkan anak untuk mengaktualisasikan kemampuannya.

4. Setting Kelas.
Sekolah menciptakan setting kelas yang fleksibel dan tidak membosankan, ruang kelas ditata agar anak betah seharian berada didalamnya. Namun belajar dapat terjadi dimana saja, duduk didepan guru, duduk melingkar, dibawah pohon atau di kebun sekolah. Lihat juga apakah anak-anak disekolah itu terlihat ceria dan kreatif. Apakah ruang kelas dihiasi karya seni para murid. Kalau ini dilakukan berarti disekolah tersebut sangat menghargai kreativitas murid-muridnya.

5. Guru.
Pastikan staf-staf di sekolah itu memang kompeten. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat dari cara para guru memperlakukan murid-muridnya serta disiplin yang diterapkan. Carilah sekolah dengan jumlah staf yang memadai, sehingga buah hati kita mendapatkan perhatian sesuai kebutuhan mereka. Semakin kecil rasionya, anak-anak akan mendapat perhatian yang cukup dari guru sehingga kebutuhannya lebih mudah di mengerti dan dipahami.

6. Kurikulum Sekolah.
Program sekolah yang baik, sebaiknya memberikan banyak waktu untuk setiap anak untuk mendorong minatnya.
Saat ini sudah banyak sekolah sekolah Islam yang menawarkan kurikulum khasnya yang mengarah kepada keimanan dan ketaqwaan. Ada program pembiasaan akhlak Islam sehari-hari, membaca dan menghafalkan Al-Qur'an, serta program ibadah.

7. Biaya.
Orang tua sering terkecoh dengan anggapan bahwa semakin mahal sekolah semakin canggih dan terpercaya sekolah tersebut. Padahal tidaklah demikian. Kecanggihan suatu sekolah bukanlah dilihat dari biaya untuk dapat bersekolah di situ, tapi oleh materi dan metode pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan kondisi keuangan saudara.

8. Cari Referensi.
Jangan ragu dan malu untuk bertanya kepada orang lain tentang situasi dan kondisi sekolah tempat anaknya bersekolah. Carilah informasi mengenai sekolah tersebut dari beberapa orang tua murid di sana, tentunya akan ada pendapat positif dan negatif. Untuk membuktikannya, datanglah ke sekolah tersebut dan amati murid-murid di sana.

Hal yang terpenting untuk membekali anak bersekolah adalah kondisi keluarga. Di sekolah buah hati kita belajar sholat, mengaji dan program ibadah lainnya. Sementara kita dirumah tidak melakukan hal tersebut. Anak akan bingung. Dan karena anak lebih lama waktunya dirumah dan berada di lingkungan terdekatnya. Maka kebiasaan orang tuanyalah yang akan diikutinya.
Kalau orang tua menginginkan anak yang sholeh dan sholehah, bekali mereka dengan menyekolahkan di sekolah Islam yang mutunya tidak kalah dengan sekolah lainnya. Namun yang penting ialah, kegiatan positif anak disekolah harus didukung dengan perilaku dan teladan orang tua.


Semoga Bermanfaat      


Baca Selengkapnya ....

Merubah Perilaku Buruk Anak

Posted by Unknown Tuesday, August 27, 2013 1 comments
Tentu kita pernah merasa kesal dan frustasi melihat kelakuan buruk anak. Kita sudah menanamkan disiplin dan aturan-aturan yang harus dipatuhi, tapi mereka koq tetap melawan atau menentang kita? Disadari atau tidak, perilaku buruk anak banyak dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya sejak kecil.

Berikut beberapa tips agar perilaku buruk anak bisa berubah :
1. Memberi contoh kepatuhan.
   Orang tua menjadi role model bagi anak. Misalnya, patuh terhadap peraturan lalu lintas, peraturan di lingkungan tempat tinggal, dan lainnya. Tentu, diharapkan contoh ini akan membuat anak sadar. Bahwa ketika kita berada dalam sebuah "otoritas" yang lebih tinggi maka kita harus tunduk kepada otoritas tersebut.

2. Berikan perintah yang jelas.
   Sering kita mengungkapkan pernyataan seperti, "Awasya, kalau nanti ikut, tidak boleh nakal!" Ungkapan tersebut tidak memiliki maksud yang jelas. Dalam benak anak, mereka akan menafsirkan sendiri apa yang dimaksud dengan nakal atau macam-macam. Sehingga mereka mencoba-coba untuk mengetahui yang dimaksud nakal atau macam-macam itu.

3. Buat batasan.
    Seorang anak bisa bersikap keras kepala jika dilarang atau diperintah. Hadapilah sikapnya dengan tegas, tapi jangan mengomel atau merayunya. Katakan apa yang kita inginkan, tegaskan bahwa ia harus melakukan apa yang kita katakan.

4. Peringatkan di awal.
  Ketika anak sudah terlalu lama bermain dan sudah waktunya untuk tidur, cobalah untuk mengingatkan lima atau sepuluh menit di awal. Dengan begitu anak tahu bahwa sebentar lagi ia haus berhenti bermain.

5. Ciptakan tujuan yang terjangkau.
   Seringkali orang tua menginginkan perilaku buruk anak berhenti seketika dan berhenti selamanya. Mungkinkah? Kenyataannya, perubahan perilaku adalah proses yang terjadi selangkah demi selangkah.
Kadang perilaku negatif anak berhenti seketika, tapi muncul lagi di kemudian hari. Jangan mengharapkan perubahan instan. Perubahan memerlukan latihan yang terus menerus, baik bagi anak saudara maupun bagi saudara sendiri.

6. Jika anak tidak berubah.
  Orang tua mudah menyerah ketika mereka tidak melihat adanya perubahan pada diri anak. Kemungkinan besar adalah, karena tujuannya yang salah. Orang tua yang berharap anak menjadi penurut 100 persen pasti gagal. Ingat , tujuan kita adalah "perbaikan".
Amati perubahan kecil yang terjadi pada anak, dan katakan padanya yang saudara amati. Mungkin perlu mengubah rutinitas dirumah untuk memudahkan perbaikan perilaku pada anak. Misalnya saudara mengubah jam mengerjakan PR dengan memperhatikan tingkat kesegaran anak. Atau TV dimatikan selam anak mengerjakan tugas. Bisa juga saudara menetapkan aturan baru, anak boleh bermain setelah PR selesai.

  Sekali lagi, setiap anak adalah pribadi yang unik. Perhatikan anak secara individu. Jangan bandingkan dengan anak lain ataupun anak dalam film-film. Jauhkan cara-cara kekerasan terhadap anak karena yakinlah bahwa itu tidak akan membuahkan hasil.



 
Semoga Bermanfaat    

Baca Selengkapnya ....

Kekayaan Mutlak Ibu Muslimah

Posted by Unknown 1 comments
Kaya selalu diidentikkan dengan kesuksesan, harta melimpah, rumah dan mobil mewah, serta segala yang menyangkut materi. Tidak sedikit manusia menjalani hidupnya hanya berorentasi pada dunia semata. Mencari dan menumpuk sebanyak-banyaknya harta kekayaan telah menjadi gaya hidup yang sejalan dengan hedonisme. Na'udzubillah!
Muslimah harus kaya? Iya, Tentu saja kaya yang sesuai dengan jalur hukum syara'. Bukan kekayaan materi semata, tetapi semua kekayaan yang menjadikan muslimah tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena muslimah mempunyai multi peran yang strategis dan mulia. Yaitu peran sebagai pribadi muslimah itu sendiri, sebagaiistri sekaligus ibu, yang punya tugas sebagai manajer rumah tangga, pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Begitu penting dan besarnya peran seorang ibu muslimah dalam pembentukan generasi generasi yang akan datang.

Maka ada kekayaan mutlak ibu muslimah, ialah :
1. Kekayaan Akidah.
Dengan akidah yang benar, muslimah akan selalu tegar ketika menghadapi badai dalam kehidupannya. Berpikir jernih dan mampu melampaui setiap ujian yang menghampiri, baik ujian yang menimpa dirinya, keluarganya, atau lingkungan sosial dan dakwahnya.
Sebagai istri, ia juga akan senantiasa menjadi penenang bagi suaminya, pendukung utama kiprah dakwah suami, dan seorang suami akan mendapatkan kekuatan untuk tetap istiqamah dan terhindar dari segala bentuk syirik dan bid'ah.
Kita patut meneladani Khadijah, istri Rasulullah SAW. Seperti yang digambarkan dalam sebuah hadits:"Rasulullah SAW bersabda, aku dikaruniahi oleh Allah SWT rasa cinta yang mendalam kepada Khadijah. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang inkar. Ia yang mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi."(HR. Ahmad). Begitu pula peran muslimah sebagai ibu. Seorang ibu yang telah memiliki akidah yang menghujam kuat ke dasar hatinya, akan menularkan perilaku dan cara berpikir yang benar kepada anak-anaknya, sehingga tidak mudah terpengaruh lingkungan yang negatif.

2. Kekayaan Tsaqofah.
Terkait kewajiban utamanya yang multi dimensi, maka seorang ibu muslimah harus memiliki tsaqofah yang luas, tidak hanya terbatas pada tsaqofah Islam. Tetapi juga tsqofah yang bersifat umum.
Sejarah membuktikan, bahwa perubahan sosial yang terjadi di masyarakat adalah hasil dari pembinaan tsaqofah secara berkesinambungan, penuh perencanaan dan sistematis.
Selain itu, ibu muslimah juga harus tanggap dan cermat dengan informasi-informasi global, berita-berita dunia keislaman atau perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Dengan demikian diharapkan mampu memberikan jawaban dengan analisa yang tajam dan mencerdaskan ketika anak-anak ataupun masyarakat umum melontarkan pertanyaan.

3. Kekayaan Amaliyah.
Sia-sialah ilmu tanpa amal dan rusaklah amal yang tidak dilandasi oleh ilmu. Ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Setelah memiliki akidah yang benar dan tsaqofah yang luas, maka tidak akan berarti apa-apa jika semua itu tidak ada aplikasinya.
Muslimah yang paham, tentu senatiasa berusaha untuk menjaga amal-amalnya agar menjadi amalan yang terbaik di sisi Allah SWT. Kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang muslimah mampu menjaga lisan, fikrah dan akhlaknya. Sehingga keberadaannya sebagai bagian dari interaksi sosial akan menjadi figur yang diteladani. Jangan puas dalam mencari ilmu, perbanyak silaturahmi dan pilihlah lingkungan yang baik.
  

Semoga Bermanfaat
    

Baca Selengkapnya ....

Lunturnya Semangat Sakinah

Posted by Unknown Saturday, April 20, 2013 0 comments
harmonis
Membangun sakinah dalam keluarga, memang tidak mudah. Ini merupakan bentangan proses yang sering menemui badai. Untuk menemukan formulanya pun bukan hal yang sederhana. Kasus-kasus keluarga disebabkan lunturnya semangat sakinah yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran penting dan menjadi motif bagi kita untuk berusaha keras mewujudkan indahnya sakinah di rumah kita.
Ketika seseorang tersedu mengeluhkan sepenggal kalimat, "Suami saya akhir-akhir ini jarang pulang", tidak sulit kita cerna maksud utama kalimatnya. Sebab, kita menemukan banyak kasus yang hampir sama, atau bahkan persis sama, dengan kasusyang menimpa wanita pengungkap penggalan kalimat tadi.
Penggalan kalimat di atas bukan satu-satunya masalah yang banyak dikeluhkan istri. Masih banyak, tapi kalau ditlusuri akar masalahnya sama: "tidak tahan menghadapi godaan". Godaan itu bisa datang kepada suami, bisa juga menggedo jagat batin istri, karena godaan itu pula, siapa pun bisa membuat seribu satu alasan. Ada yang mengatakannya sudah tidak harmons, tidak bisa saling memahami, ingin mendapat keturunan, atau tidak prnah cinta.
Payahnya, semakin hai godaan akibat pergeseran nilai sosial semakin menggelombang dan menghantam. Sementara, ketahanan keluarga semakin rapuh karena ketidakpastian pegangan. Maka, kita dapati kasus-kasus d mana seorang ibu kehilangan kepercayaan anak dan suaminya. Seorang bapak yang tidak lagi berwibawa di hadapan anak dan istrinya. Anak yang lebih erat dengan ikatan komunitas sebayanya. Bapak berebut otoritas dalam keluarga dengan istrinya, serta istri yang  tidak berhenti memperjuangakan hak kesetaraan di hadapan suami. Semua punya argumentasi untuk membenarkan posisinya. Semua tidak merasa ada yang salah dengan semua kenyataan yang semakin memprihatinkan itu.

Tapi benarkah perubahan zaman menjadi sebab utama terjadinya pergeseran nilai dalam rumah tangga? Lalu, mengapa keluarga kita tidak lagi sanggup bertahan dengan norma-norma dan jati diri keluarga kita yang asli? Bukankah orang tua-orang tua kita telah membuktikan bahwa norma-norma yang mereka anut telah berhasil mengantarkan mereka membentuk keluarga normal dan berbudaya, bahkan berhasil membentuk diri kita yang seperti sekarang ni?
Lantas, kenapa kita harus larut dengan segala riuh-gelisah perubahan zaman yang kadang membingungkan?

Transformasi budaya memang tidak mudah, bahkan tidak mungkin, kita hindari. Arusnya deras masuk ke rumah  kita leat media informasi dan komunikasi. Kini, setiap sajian budaya yang kita konsumsi dari waktu ke waktu, diam-diam telah menjadi standar nilai masyarakat kita. Ukuran baik buruk tidak lagi bersumber pada moralitas universal yang berlandaskan agama, tapi lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai artifisial yang dibentuk untuk tujuan pragmatis dan bahkan hedonis. Tanpa kita sadari, nilai-nilai itu kini telah membentuk perilaku sosial dan menjadi anutan keluarga serta masyarakat kita. Banyak problema keluarga yang muncul di sekitar kita umumnya menggambarkan kegelisahan yang diwarnai oleh semakin lunturnya nilai-nilai agama dan budaya masyarakat. Masyarakat kini seolah telah berubah menjadi "masyarakat baru" dengan wujud yang semakin kabur.
Satu lagi yang sering menjadi akar bencana keluarga, yaitu anak. Dunia anak adalah dunia yang lebih banyak diwarnai oleh pross pencarian untuk menemukan apa-apa yang menurut perasaan dan pikirannya ideal.
Dunia ideal sendiri, baginya adalah dunia yang ada di depan matanya, yang karenanya ia akan melakukan pengejaran atas dasar kehendak pribadi. Akan tetapi, di sisi lain, perkembangan psikologi yang sedang dilaluinya juga masih belum mampu memberikan alternatif secara matang terutama dalam ikut menemukan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan.

Guru di sekolah ataupun orang tua di rumah, secara tidak sadar, seringkali menjadi sosok yang begitu dominan dalam menentukan masa depan anak. Padahal, guru ataupun orang tua bukanlah segala-galanya bagi perkembangan dan masa depan anak. Proses pendidikan, dengan demikian, pada dasarnya merupakan proses bimbingan yang memerdekakan sekaligus mencerahkan. Proses seperti itu berlangsung alamiah dalam kehidupan yang bebas dari ikatan-ikatan yang justru tidak mendidik. Dalam kerangka seperti inilah, maka keluarga bisa berperan sebagai lembaga yang membimbing dan mencerahkan, atau sebaliknya. Jika tidak tepat memainkan peran yang sesungguhnya, bisa saja berfungsi sebagai penjara yang hanya mampu menanamkan disiplin semu. Anak-anak bisa menjadi manusia yang paling shalih dirumah, tetapi menjadi binatang liar ketika keluar dari dinding-dinding rumah dan terbebas dari pengawasan orang tua.
  
Dalam situasi seperti ini, anak mulai mencari kesempatan untuk memenuhi kebuntuan komunikasi yang dirasakannya semakin kering dan terbatas. Sebab berkomunikasi untuk saling menyambungkan rasa antar anggota keluarga merupakan kebutuhan dasar yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Konsekuensinya, ketidaktersediaan aspek ini dalam keluarga dapat berakibat pada munculnya ketidakseimbangan psikologi yang pada gilirannya dapat saja mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial seperti apa yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Inilah di antara kerusakan akibat lunturnya semangat sakinah dalam keluarga kita.


semoga bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Posted by Unknown Friday, March 15, 2013 0 comments


patuh

1. Hak dan kewajiban yang bukan bersifat kebendaan
  • Suami istri wajib bergaul dengan baik (Mu'asyaroh bil ma'ruf) yaitu saling menghormati, saling menghargai, saling kasih sayang, saling memaafkan, hidup harmonis, jujur, berterus terang dan bermusyawarah (QS. An Nisa' : 19). 
  • Menjaga rahasia rumah tangga, ulamanya rahasia pribadi masing-masing (QS. An Nisa' : 34) dan Rosulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya diantara yang paling dimurkai Allah di hari kiamat ialah seorang suami yang diberitahu oleh istrinya tentang rahasia sedangkan oleh suami rahasia tadi disiarkannya (HR. Muslim).
  • Berakhlaq baik terhadap keluarganya, sebagaimana sabda Rosulullah SAW yang artinya "Orang yang baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Saya (Nabi), tidaka ada orang yang mulia, kecuali dia memuliakan wanita (istri) dan tidak ada orang yang menghina wanita (istri) kecuali dia sendiri orang yang hina". (HR. Ibnu Asakir).
  • Istri wajib taat kepada suami, sebagaimana sabda Rosulullah SAW, yang artinya : "Apabila istri itu menjaga Sholat lima waktu, puasa romadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suami, maka dia akan masuk surga." (HR. Al Bazzar).
2.  Hak dan kewajiban bersifat kebendaan
  • Suami wajib memberi nafkah, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya" Suami adalah kepala keluarga, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) dari sebagian yang lain (istri) dan karenanya suami berkewajiban memberi nafkah kehidupan keluarganya." (QS. An Nisa' : 34).
  • Suami wajib menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. (QS.Ath Thalaq : 6).
  • Istri wajib mengatur rumah tangga dengan baik, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya "....wanita yang baik adalah yang taat kepada suami dan menjaga rumah tangganya, serta memelihara rahasia dan harta bendanya, " (QS. An Nisa' : 34). Rosulullah SAW bersabda :"Istri adalah penanggung jawab rumah tangga suaminya. " (HR. Al Bukhori dan Muslim).  
Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Dasar Pembentukan dan Syarat Pembinaan Rumah Tangga

Posted by Unknown 0 comments

bahagia
Keluarga Bahagia
Dasar pembentukan rumah tangga bahagia yang Islami sbb :
  1. Adanya kesamaan agama antara calon suami istri untuk mewujudkan kehormatan dalam lingkungan keluarga. (QS. Al Baqarah : 221).
  2. Adanya keseimbangan/keserasian antara calon suami istri.
  3. Adanya kemampuan calon suami istri (al ba'ah).
Rosulullah SAW bersabda :"Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu (Alba'ah) memikul beban keluarga, hendaklah ia kawin, itu akan lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat mampu menjaga kehormatan.Barang siapa yang belum mampu, hendaklah berpuasa. sesungguhnya berpuasa itu akan menjadi benteng yang menjaganya (dari perbuatan zina)". (HR. Bukhori dan Muslim).

 Rumah tangga bahagia adalah rumah tangga yang berkualitas dan agar mendapatkan rahmat Allah SWT, maka ada lima aspek pokok kehidupan yang harus dipenuhi, yaitu :

1. Terwujudnya suasana kehidupan yang Islami, antara lain dengan melaksanakan:
  • Membiasakan membaca, menulis Al Qur'an dan memahami isinya secara rutin.
  • Membudayakan Sholat berjamaah dalam berkeluarga. 
  • Melaksanakan amalan ubudiyah yaumiyah (ibadah harian) dalam keluarga, misalkan do'a-do'a, ucapan basmalah (Bismillahhirrohmaanirrohim) setiap mulai pekerjaan dan ucapan hamdalah (alhamdulillah) setiap selesai pekerjaan serta mengucapkan salam.
2. Terlaksananya pendidikan dalam keluarga, seperti yang dituntunkan oleh Lukman Al Hakim kepada putranya (QS. Lukman : 12-19) antara lain :
  • Pendidikan ke Esaan Tuhan (Tauhid).
  • Pendidikan pengetahuan dan keilmuan.
  • Pendidikan akhlaq.
  • Pendidikan ketrampilan.
  • Pendidikan kemandirian.
3. Terwujudnya kesehatan keluarga dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  • Kebersihan rumah dan lingkungan.
  • Olah raga keluarga yang rutin.
  • Kebersihan, kesehatan dan gizi keluarga (empat sehat lima sempurna enam halal).
4.  Terwujudnya ekonomi keluarga yang sehat, antara lain :
  • Mengusahakan memiliki yang halal dan baik.
  • Mengendalikan keuangan keluarga, hemat dan tidak kikir.
  • Membiasakan menabung.
  • Memanfaatkan perkarangan dan atau home industri (industri rumah tangga) untuk menunjang ekonomi keluarga.
5.  Terwujudnya hubungan keluarga yang selaras, serasi, seimbang dengan jalan antara lain :
  • Membina sopan santun, etika dan akhlaq sesuai dengan kedudukan masing-masing isi keluarga.
  • Menciptakan suasana keakraban antara anggota keluarga, seperti waktu-waktu sesudah Sholat berjama'ah, waktu makan bersama dan waktu rekreasi.
  • Menciptakan suasana keterbukaan, rasa saling memiliki dan rasa tanggung jawab satu sama lain diantara anggota keluarga.
  • Menumbuhkan rasa saling menghargai, saling menghormati, saling memaafkan kesalahan satu sama lain diantara anggota keluarga.
  • Melaksanakan kehidupan bertengga, berteman dan bermasyarakat, sesuai ajaran Islam.
Rosulullah SAW bersabda : "Apabila Allah menghendaki rumah tangga bahagia, maka diberikan kecenderungan mempelajari ilmu agama, yang muda menghormati yang tua, serasi (harmonis) dalam kehidupan, hemat dan hidup sederhana, melihat (mengawasi) cacat (kekurangan) mereka, dan kemudian melakukan taubat/minta maaf. Dan jika Allah menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkannya mereka dalam kesesatan." (HR. Dailami).
Rosulullah bersabda :
"Bahwa kebahagiaan keluarga dapat tercapai apabila terpenuhi empat perkara : yaitu keserasian antara suami istri, mempunyai anak yang terdidik, bergaul dengan orang yang sholeh, dan memiliki ketrampilan yang dapat menambah penghasilan." (HR. Dailami).

Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Perkawinan Menuju Rumah Tangga Bahagia

Posted by Unknown Tuesday, March 12, 2013 0 comments

Prosesi
1. Pengertian Perkawinan
Perkawinan dalam Islam ialah suatu akad atau perjanjian mengikat antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak dengan sukarela dan kerelaan kedua belah pihak merupakan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman (sakinah) dengan cara-cara yang di ridhoi Allah SWT. Islam memandang dan menjadikan perkawinan itu sebagai basis suatu masyarakat yang baik dan teratur, sebab perkawinan tidak hanya dipertalikan oleh ikatan lahir saja, tetapi diikat juga dengan ikatan batin.

Islam mengajarkan bahwa perkawinan itu tidaklah hanya sebagai perjanjian biasa seperti perjanjian biasa seperti perjanjian jual beli atau sewa menyewa dan lain-lain, melainkan merupakan suatu perjanjian suci (mitsaqon gholidho), dimana kedua belah pihak dihubungkan menjadi suami istri atau saling meminta menjadi pasangan hidup dengan mempergunakan nama Allah. (Q.S. An Nisa' ayat 1).
sabda Rosulullah SAW "Takutlah kepada Allah akan urusan perempuan, sesungguhnyakamu ambil mereka dengan amanah Allah dan kamu halalkan mereka dengan kalimat Alloh" (H.R. Muslim).

Dasar perkawinan menurut Islam adalah melaksanakan :
  1. Firman Allah SWT (QS. An Nur : 32) yang artinya "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian  di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. An-nur : 32).
  2.  Sabda Rosulullah SAW:
    "......dan akupun juga nikah, maka siapa benci pada sunnahku berarti bukan termasuk umatku (H. Muttafaqun alaih).
2. Tujuan dan Hikmah Perkawinan.
Tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan untuk membentuk keluarga yang tentram (sakinah), cinta kasih (mawaddah) dan penuh rahmat, agardapat melahirkan keturunan yang sholeh dan berkualitas menuju terwujudnya rumah tangga bahagia. Allah berfirman "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, bahwa Allah telah kamu berpasangan (berjodoh-jodoh) agar kamu dapat merasakan ketenangan, diikat rasa kmenjadikan asih sayang dan saling mencintai. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi pertanda bukti-bukti bagi orang-orang yang berfikir (QS. Arrum ayat 21).

Adapun hikmah perkawinan bagi umat manusaia khususnya umat Islam sebagai berikut :
  •  Melaksanakan perkawinan merupakan salah satu ibadah bagi umat Islam.
  • Dapat terpelihara dari perbuatan maksiat.
  • Dapat terbentuk suatu rumah tangga yang bahagia, damai, tentram serta kekal disertai rasa kasih sayang antar suami istri.
  • Dapat diperoleh garis keturunan yang syah,jelas dan bersih, demi kelangsungan hidup dalam keluarga dan masyarakat.
  • Dapat terlaksananya pergaulan hidup antara seseorang atau kelompok secara teratur, terhormat dan halal, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makluk yang terhormat diantara makluk-makluk Allah yang lain.
3. Walimah Perkawinan (perjamuan kawin)
Agama Islam menganjurkan setiap ada akad nikah agar diadakan upacara walimah (perjamuan nikah), manfaat walimah ialah keluarga, tetangga dan handaitaulan ikut mendo'akan mempelai berdua dan mengetahui pula secara syah hubungan antara keluarga menurut hukum dan agama. Rosulullah bersabda "Adakan walimah (perjamuan kawin) walaupun dengan meyembelih seekor kambing." (HR. Al-Bukhori).
Rosulullah SAW bersabda :
"Sejelek-jeleknya makanan ialah makan walimah (perjamuan kawin) yang diundang orang-orang kaya dan dibiarkan orang-orang miskin." (HR. Al-Bukhori dan Muslim). 
       
Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Rumah Tangga Sebagai Pusat Ketentraman Batin dan Ketenangan Jiwa

Posted by Unknown Monday, March 11, 2013 0 comments

Tentram
  Seharusnya rumah tangga itu dapat menjadi pangkalan ketentraman batin dan pangkalan ketenangan jiwa, Sehingga ketika suami sudah berlumur keringat, bersibah peluh, bekerja dengan keras, ia akan selalu merindukan untuk pulang ke rumah. Karena rumah tangga adalah sumber ketenangan dan ketentraman yang tidak akan diperoleh dalam hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari.

   Demikian pila sepatutnya seorang anak begitu rindu untuk pulang ke rumah karena disana akan ia dapati ibu dan ayah yang bagaikan air pelepas haus di kala dahaga.

    Sepatutnya pula seorang istri selalu merasa aman, nyaman, dan tentram berada dirumah untuk menikmati perjumpaan dengan suami serta anak-anaknya. Sehingga semua anggota keluarga sepakat menjadikan rumah sebagai pusat ketentraman batin dan ketenangan jiwa.

      Namun kenyataan yang dapat kita saksikan di kiri-kanan, tidak sedikitsuami yang enggan pulang ke rumahnya, hanya karena setiap ia memasuki rumah yang dirasakannya adalah ketidaknyamanan lantaran sikap istri dan anak-anaknya. Bayangkan, akan pulang kemana lagi seorang suami bila tidak mendapatkan ketentraman di rumahnya sendiri.

    Demikian pula, dapat kita saksikan bagaimana anak-anak yang banyak berkeluyuran, enggan pulang ke rumah hanya karena mereka tidak mendapatkan ketentraman berada di rumah. Bahkan ada juga istri-istri yang lebih sibuk mengutamakan aktivitas diluar, disebabkan karena tidak bisa juga merasakan serta mendapatkan kenyamanan dan ketentraman hati di rumah yang ia urus.

       Mengapa semua itu dapat terjadi? Padahal kalau diperhatikan, rumah sudah lapang, hartanya sudah banyak, kedudukan penghuni rumahnya begitu tinggi, mengapa? Sebab, ketentraman dan ketenangan jiwa itu, hanya akan ditemui dengan satu-satunya jalan, "Alaa bi dzikrillahi tathmainnul quluub" (QS ar-Ra' d{13}: 28). Camkan, hati ini hanya akan tenang-tentram jikalau ingat kepada Allah SWT.

      Dengan kata lain rumah tangga yang dibangun tanpa mengingat Allah, tanpa mengenal Allah, tidak Taat Allah, maka demi Allah, sehebat apapun harta yang ada, setinggi apapun kedudukan anggota keluarganya, semelimpah apapun kekayaan mereka, sehebat apapun kekuasaannya, tidak akan pernah bisa membeli ketentraman jiwa. Karena dunia berikut isinya tidak pernah cocok dengan hati, dia hanya cocok untuk kebutuhan lahiriah belaka.

      Oleh karena itu, rumah tangga yang penuh barokah itu adalah rumah tangga yang tujuannya adalah Allah SWT. Yang sehari-harinya diisi dengan kesungguhan untuk mendekat kepada Allah SWT; yang hartanya dicari harta di jalan Allah dan dia nafkahkan di jalan Allah; yang rumahnya disukai oleh Allah; yang isinya tidak membuat murka Allah. Rumah tangga yang menjadikan Allah sebagai tujuan, pegangan, pergantungan hidupnya dan dibuktikan dengan ketaatan. Inilah rumah tangga yang benar-benar akan merasakan ketentraman.

    Maaf, wahai saudara-saudaraku, demi Allah! tidak akan pernah tenang-tentram siapapun termasuk yang berumah tangga, yang menjadikan anggota keluarganya untuk bersungguh-sungguh taat dan mendekat kepada Allah SWT.
Ingat, jangan sampai terkccoh. Hidup ini milik Allah. Dialah yang menguasai semua jalan kebahagiaan dan semua jalan kebaikan. Dunia itu tertutup kecuali bagi orang-orang yang selalu berusaha mendekat dan taat kepada-Nya.

     Untuk itu, pastikan rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang ahli sujud, rumah tangga yang ahli taat, rumah tangga yang menghiasi dirinya dengan dzikrullah, dan rumah tangga yang selalu rindu untuk mengutuhkan kemuliaan hidup di dunia terutama mengutuhkan kemuliaan dihadapan Allah SWT kelak di surga. Amin yaa Robbal 'Aalamin....           
Semoga Bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Rumah Tangga Sebagai Pusat Nasehat

Posted by Unknown 0 comments

Rumah tangga
  Kita harus tahu persis bahwa semakin hari semakin banyak yang harus kita lakukan. Untuk itulah kita butuh orang lain agar bisa melengkapi kekurangan kita guna memperbaiki kesalahan kita. "Wa tawa shawbil haggi wa tawa shawbish shabr" (QS Al-Ashr [103}:3) - inilah rahasia yang sangat penting.

      Rumah tangga yang akan bahagia itu adalah rumah tangga yang dengan sadar menjadikan kekayaannya saling menasehati, salaing memperbaiki, serta saling mengoreksi dalam kebenaran dan kesabaran.

     Suami yang paling baik ialah suami yang paling sanggup berkata pada istrinya, "Duhai istriku, saya hanyalah seorang manusia  yang sedang belajar menemukan jalan hidup. Mungkin ada kelebihan karunia Allah SWT yang harus kita syukuri, tapi pasti banyak kekurangan yang mungkin dengan kehadiranmu saya akan lebih baik. Duhai istriku, jikalau engkau mencintaiku, ingin menjadikan diriku pewaris surga, terus koreksilah suamimu ini agar bisa menjadi suami yang baik, agar bisa menjadi suami yang semakin bertanggung jawab." 

         Pada saat yang sama istrinya pun mengatakan, "Wahai suamiku, saya rindu menjadi istri yang mulia dalam pandangan Allah SWT, terus lah koreksi dan nasehati saya".

        Begitu pun kalau kita punya anak-anak, bapak-ibu khawatir kelak dituntut oleh kalian di akhirat hanya karena  tidak sanggup mendidik. Maka bantulah bapak bisa memperbaiki diri menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab dan juga menjadi seorang ibu yang arif dan bijak."

        Apabila sebuah rumah tangga mulai saling menasehati maka rumah tangga akan bagaikan cermin; akan membuat anggota keluarganya berpenampilan lebih baik dan lebih baik lagi. Karena tidak pernah ada kereksi yang paling aman selain koreksi dari keluarga kita, karena dia adalah darah daging kita sendiri.

      Rumah tangga yang barokah itu cirinya oleh rumah tangga yang selalu merasakan nikmat dan ringan dalam saling menasehati dengan tulus agar semakin mulia, semakin terperbaiki, dan semakin berkedudukan di sisi Allah SWT, Inilah rumah tangga yang akan dijamin beruntung.amin...

Semoga Bermanfaat
 

Baca Selengkapnya ....

Rumah Tangga Sebagai Pusat Ilmu

Posted by Unknown 0 comments

Ilmu
Rumah tangga yang akan ditingkatkan derajatnya oleh Allah SWT. ternyata bukan rumah tangga yang memeliki kedudukan tinggi. Tak jarang kedudukan tinggi itulah yang menghinakan. Tidak jarang pula kekayaan yang banyak akan membuat sebuah rumah tangga "dimiskinkan" oleh keinginan-keinginan, diperbudak dan dinistakan oleh apa yang dimiliki.
    
    Ingat, " Yarfa 'illahul ladziina aamanu minkum, walladziina utul 'ilma darajaat" (QS al-Mujaadilah [58]: 11). Ditinggikan oleh Allah SWT orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat, Artinya, sesudah memantapkan niat kita kepada Allah untuk berumah tangga, maka kekayaan yang harus kita miliki dalam berkeluarga adalah ILMU. Barang siapa yang ingin dunia harus pakai ilmu. Ingin akhirat harus pakai ilmu, Ingin dunia dan akhirat harus pakai ilmu.
    
    Kegigihan sebuah rumah tangga dalam menuntut ilmu, kegigihan rumah tangga dalam memperkaya ilmu, kegigihan sebuah rumah tangga dalam meluaskan ilmu adalah kekayaan yang teramat berharga. Karena orang yang tidak punya ilmu seperti orang yang main film, main sinetron, tapi tidak mengenak skenario. Ibarat orang yang memasuki rimba belantara tetapi tidak membawa peta. Seperti orang yang masuk kedalam lorong gua tanpa mengenali jalan-jalannya. Sepanjang harinya dipenuhi oelh rasa was-was. Sepanjang waktunya diselimuti oelh kegelisahan. Musibah dan fitnah akhirnya menjadi akrab dengan rumah tangga tersebut. Oleh karena itu, wahai pembaca yang budiman, pastikan kekayaan kita adalah ILMU.

    Pupuk iman adalah ilmu, malah kita akan menjadi "penjaga harta". Kalau memiliki ilmu yang akan menjaga kita. Harta dinafkahkan bisa habis, ilmu bila kita nafkahkan kian melimpah. Oleh karena itu, pastikan agar anggota keluarga kita selalu sungguh-sungguh untuk mencari ilmu. Baik ilmu tentang hidup di dunia maupun akhirat.

    Allah SWT menjanjikan, jikalau Allah SWT cinta kepada sebuah keluarga, cirinya ialah dibukakan hati mereka untuk belajar ilmu agama. Untuk itu, carilah majelis taklim (majelis ilmu), datangi dengan sunguh-sunguh. Beli buku-buku agama. jadikan perpustakaan menjadi bagian penting dari hiasan rumah kita. dengarkan radio, beli kaset, VCD atau apa saja yang membuat kita semakin mengenal siapa Allah SWT, bagaimana perjalanan menuju kepada-Nya dan bagaimana menyikapi hidup di jalan yang disukai oleh Allah SWT.

    Percayalah, rumah tangga yang kurang berilmu adalah rumah tangga yang hanya akan akrab dengan sikap emosi, jauh dari kearifan dan hanya mengandalkan kekasaran. Padahal, rumah tangga semacam ini kian hari akan selalu bertambah masalahnya, kian hari bertambah kebutuhannya, dan bertambah potensi konfliknya, Bagaimana mungkin segala yang bertambah disikapi dengan ilmu yang tidak bertambah pula.
Maha Suci Allah SWT yang menjanjikan kemuliaan hanya bagi orang yang beriman dan berilmu.     


Semoga Bermanfaat     

Baca Selengkapnya ....