Kerendahan Hati

Posted by tri novi handono Saturday, September 14, 2013 2 comments
Kerendahan hati ialah sifat yang dapat membebaskan seorang dari ikatan kedudukan atau martabat yang tinggi, dan membawanya ke tingkat yang sejajar dengan orang lain. Kerendahan hati ialah anggapan seseorang bahwa dirinya tidak ada kelebihannya, dibanding dengan yang lain karena kedudukan yang ada padanya. Abu Zaid berkata: bila seseorang masih beranggapan, ada manusia lain yang lebih buruk daripadanya, maka ia adalah orang yang sombong. Ketika ditanya, bilakah seorang itu dapat dinilai sebagai orang yang rendah hati? Maka jawabnya:"Kalau ia sudah tidak lagi memandang tinggi ucapan dan kedudukannya".
Al Hikam mengatakan:"Bukanlah sekali-kali orang-orang rendah hati itu, yang menilai bahwa dirinya telah berbuat sesuatu melebihi yang lain, tapi rendah hati itu, yang beranggapan, bahwa apa yang dikerjakan olehnya itu masih serba kurang". Dan rendah hati itu, adakalanya, karena kesadaran dan keinsafan yang tumbuh dalam hati seseorang. Maka dengan hati nuraninya melihat dengan nyatanya akan keagungan dan kebesaran Tuhannya. Itulah sifat rendah yang hakiki, dan tiada yang mengatasi. Adakalanya pula, karena keinsafan seseorang akan kelemahan dan keapesan dirinya; yang pertama dapat memadamkan gejolak nafsu yang angkara murka dan menghapus egoisme, serta menjebol habis rasa bangga dan sombong dari hati seseorang, sedangkan yang kedua akan membawa seorang ke tingkat derajat yang mulia dan terpuji.
Dan kerendahan hati Nabi Muhammad SAW adalah teladan tertinggi dan sempurna, yang patut dicontoh dan diikuti. Albukhary meriwayatkan dari Umar bin Khattab, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:"Janganlah kalian memuji dan memujaku berlebih-lebihan seperti orang Nasrani berbuat terhadap Isa putra Maryam. Aku ini adalah hamba juga, maka katakanlah kepadaku, hamba Allah dan rasulnya". Bahwa Nabi Muhammad sebagai hamba dan Rasulullah itu, bukan berarti adanya persamaan beliau dengan yang lain dalam pengabdian dan darma baktinya kepada Tuhan, Sekali-kali bukan demikian. Karena beliau dalam hal ini, manusia yang paling sempurna dan itulah pula hakikat dari pada kesempurnaan insani.
Tatkala Allah menawarkan pilihan kepada Nabi Muhammad SAW apakah beliau ingin sebagai hamba dan nabinya, atau sebagai nabi dan raja (seperti Sulaiman) maka beliau memilih yang pertama, justru karena kerendahan hatinya. tentang ini, Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Jibril datang kepada Nabi SAW dan tak lama turun malaikat yang sejak dijadikan Allah belum pernah turun ke bumi. Kemudian malaikat tadi berkata kepada Rasulullah:"Ya Muhammad, Tuhanmu mengutusku untuk menyampaikan pilihan kepadamu apakah engkau ingin dijadikan raja, ataukah hamba dan rasulnya, maka Nabi SAW menjawab tegas:"Aku adalah hamba dan rasul-Nya".
Contoh dari kerendahan hati Rasulullah, An Nasa'y meriwayatkan, Nabi SAW tidak segan-segan berjalan bersama janda tua atau orang miskin untuk menolongnya, menyampaikan keperluan dan hajatnya. Nabi SAW bila datang menjenguk orang sakit, duduk di dekat kepalanya menghibur hatinya, bertanya dengan lemah lembut dan kadang-kadang meletakkan tangannya di tempat yang terasa sakit, sambil berdoa: "Mudah-mudahan Allah lekas menyembuhkannya". Dalam riwayat yang lain, Anas berkata: Rasulullah SAW adalah yang paling dicintai oleh sahabatnya. Namun bila mereka melihatnya datang tidak satu pun yang bangun berdiri, karena yang demikian itu tidak disukai olehnya. Itu tidak lain karena kerendahan hati beliau dalam pergaulan bersama. Sedangkan berdiri tegak dengan khusyuknya hanya untuk Tuhan Rabbul 'Aalamin.
Imam Ahmad at Tirmidz dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW bersabda:"Seandainya aku diberi oleh seseorang kaki kambing, aku akan menerimanya, atau aku diundang untuk memakannya, aku pun tidak menolak". Dalam rumah tangga kerendahan hati Rasulullah pun terlihat, Aisyah istrinya berkata: Dalam rumah tangga Rasulullah SAW seperti manusia lainnya, beliau menjahit atau menambal bajunya sendiri. Memeras susu kambingnya dan menyiapkan sendiri segala apa yang diperlukan sampai-sampai memperbaiki sandalnya yang rusak. Hadist ini dengan jelas menunjukkan betapa kerendahan hati beliau, sekaligus mencerminkan pandangan terhadap kemewahan hidup yang baginya pribadi dinilainya sangat remeh dan sepele. Apa yang di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih abadi. Nabi tidak suka dipuji dan puja secara berlebih-lebihan yang bisa membawa kepada kesesatan seperti halnya orang-orang Nasrani terhadap Isa Bin Maryam. Nabi SAW selalu menyampaikan hajat dan keperluan siapa saja yang datang kepadanya baik laki-laki maupun perempuan. Serta memegang teguh rahasia  orang yang datang mengadukan kepada ihwalnya dan mencurahkan semua isi hatinya, di samping beliau sendiri menyembunyikan dan tidak pernah mengadukan kepada sahabat penderitaan, kekurangan, atau kebutuhan hidup diri dan keluarganya, sehingga menggadaikan kepada seorang Yahudi karena utang tiga puluh liter beras merah untuk keperluan rumah tangga.

Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kerendahan Hati
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/09/kerendahan-hati.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 comments:

saifurroyya said...

Sikap tawadhu' akan mendekatkan diri kepada Rabb-nya. Sebagaimana sabda Nabi saw. yang kurang lebih berbunyi "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang tawadhu'"

Bursa Printer said...

orang rendah hati, itu merupakan sifat nabi ;)

Post a Comment