Perbuatan

Posted by tri novi handono Thursday, September 5, 2013 1 comments
Kita tahu dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang diturunkan ke bumi untuk mengajar umat manusia, bagaimana menjadi orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Cara mengajar Rasulullah itu, yaitu dengan keteladananyang mudah dicontoh oleh umatnya. Seandainya Rasulullah hanya memerintahkan dan menyuruh saja, pastilah umat akan kebingungan untuk mengamalkannya. Karena itu, oleh Allah kerasulan Nabi Muhammad SAW itu disempurnakan dengan sikap "Uswah Hasanah,"yaitu teladan dalam kebaikan. Karena pribadi Rasulullah adalah teladan kebaikan, maka umat tinggal meniru saja. Maka, kita semua yang beragama Islam dalam melakukan syariat agama tidak lain adalah mencontoh Rasulullah SAW. Selain keteladanan, Rasulullah disempurnakan lagi oleh Allah dengan kefasihan lisan yang dalam bicara dan menerangkan sesuatu mudah dimengerti dan jelas.

Dalam tubuh manusia paling tidak ada beberapa unsur, yaitu fikiran yang bisa dikembangkan untuk memperluas wawasan dalam membedakan yang benar dengan yang salah, yang berguna dengan yang sia-sia, serta wawasan keilmuan lainnya. Kemudian ada kalbu, untuk merasakan cinta kasih sayang sesama manusia, serta merasakan keindahan semua yang kita lihat dan kita alami di dunia ini. Rasa cinta kasih dan keindahan itulah yang bisa kita gunakan untuk menciptakan atmosfer damai dan rukun di dunia ini. Kelembutan jiwa yang dekat dengan Allah akan mudah untuk merasakan nikmat dan bahagia.

Jika yang benar dan yang indah telah menyatu, tinggal semangat untuk dipacu dalam kccenderungan jiwa untuk menuju kebaikan dan kebenaran. Inilah hidup yang bermakna dan bernilai.
Jika wawasan keindahan minus, kasih sayang dan keindahan juga minus, semangat untuk menuju kebaikan dan kebenaran sudah tidak ada, apa bedanya hidup ini dengan binatang. Sebagai makhluk yang mulia dengan akal pikiran yang sehat, setiap manusia punya tugas untuk menjaga jiwanya untuk tetap stabil agar bisa istiqomah untuk selalu menempuh jalan"Shiratul Mustaqim," yaitu jalan "Sunnah"yang dicontohkan Rasulullah.
Unsur-unsur kebaikan yang disebutkan di atas itu sebenarnya sudah terdapat dalam agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu. Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dengan kasih sayang yang utuh, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad,"Tidak beriman seseorang kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri."

Manusia adalah makhluk yang termulia di dunia ini. Tidak ada makhluk lain selain manusia yang punya kemampuan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti manusia. Namun capaian dan prestasi kemajuan teknologi yang hebat dan canggih, ada nilai ukuran bagi kemuliaan manusia itu, yaitu kemampuan dalam menghargai manusia dan kemanusiaan. Artinya kemajuan yang luar biasa itu tidak boleh menyakiti da merugikan manusia lain. Jika melukai hati dan merugikan manusia, maka kemajuan yang canggih itu menjadi tidak ada artinya. Melukai, merugikan, menipu dan menindas orang lain itu bentuk akhlak yang rendah yang identik dengan kebinatangan. Manusia yang bertindak kejam, berarti telah merendahkan dirinya sendiri.
Diturunkannya perintah puasa kepada umat Islam agar manusia itu bisa menjaga kemanusiaannya dengan akal yang sehatnya dan tetap hidup dengan perangai mulia sesuai dengan aturan-aturan Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dengan puasa manusia harus membersihkan dirinya dengan perangai-perangai tercela (nafsu batiniyah/kebinatangan). Puasa adalah untuk membangun kesadaran kemanusiaan yang utuh serta kesadaran kemakhlukan yang menyadari bahwa dirinya akan mulia kalau berakhlak dengan kemanusiaan serta mematuhi Dzat Maha Agung yang menciptakan langit dan bumi. Inilah derajat ketaqwaan yang dikehendaki Allah.
Untuk mengukur derajat ketaqwaan dan kemuliaan itu ialah dengan mempelajari tingkah laku/ajaran Nabi Muhammad SAW. Kalau hidup ini jauh berbeda dengan yang diteladankan Rasulullah, berarti jauh pula diri ini dari ketaqwaan dan kemuliaan. Jika seseorang berhasil melakukan apa yang dicontohkan Rasulullah berarti orang itu sudah berada dalam pangkat taqwa dan mulia.
Dengan demikian iman itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Dalam salah satu hadist Rasulullah bersabda: Yang disebut iman itu bukan berangan-angan. Tetapi iman itu ialah sesuatu yang disimpan dalam hati dan (harus) dibuktikan dengan perbuatan.

Taqwa ialah mengutamakan berbuat yang baik dan benar, bukan hanya berkhayal-khayal yang tidak ada bukti perbuatan. Orang tidak perlu berkhayal masuk surga, tapi kalau perbuatan dan tingkah lakunya sesuai dengan ajaran dan keteladanan Rasulullah, Insya Allah akan meraup "Ridha" Allah. Islam adalah agama amal. Selembar uang yang disedekahkan kepada orang miskin tak akan hilang percuma. Uang itu nanti di akhirat akan menjemput yang menyedekahkannya dalam bentuk yang sangat indah. Insya Allah.


Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Perbuatan
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/09/perbuatan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 comments:

Jual Printer Bekas said...

semoga kita semua umat allah selalu bertaqwa di jalan allah yah sob amin.. ;)

Post a Comment