Jangan Salahkan Anak

Posted by tri novi handono Thursday, September 5, 2013 1 comments

Ironis. Mungkin kata inilah yang pantas diucapkan saat kita menyaksikan semakin meningkatnya kasus-kasus kriminal yang melibatkan anak-anak berusia dibawah umur. Mulai dari kasus pencabulan, pelecehan, pemerkosaan, bahkan sampai berujung pembunuhan dengan korban anak-anak. Belum lain kasus-kasus kejahatan seksual yang pelakunya justru anak-anak dan remaja.
Hal ini sejalan dengan perkembangan kasus kejahatan di Indonesia saat ini yang menonjol merupakan kasus kekerasan seksual pada ana. Yang mengkhawatirkan dan membuat miris adalah mengapa tingginya angka kekerasan seksual ini tidak menimbulkan reaksi masyarakat?
Coba bandingkan reaksi masyarakat terhadap kekerasan seksual di India, yang dalam budayanyamasih mendiskriminasi kam perempuan saja, masyarakatnya bisa tergugah dan bergerak untuk menggugat bahkan menekan pemerintah untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak.
Kasus pemerkosaan seorang mahasiswi yang berujung kematian sang korban membuat masyarakat India turun ke jalan menuntut keadilan dan perlindungan bagi kaum perempuan dan anak-anak. Bagaimana dengan negeri ini? Jangan sampai masyarakat menjadi "mati rasa" dan menganggap berbagai pemberitaan mengenai kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak hanya sebagai berita saja.
Semestinya, media punya peran lebih aktif dan signifikan dalam masyarakat daripada sekedar hanya pemberitaan saja. Media dalam pemberitaan sebaiknya tidak hanya memosisikan pelaku (anak-anak remaja) sebagai pihak yang harus diadili secara hukum dan moral sendirian.
Namun media juga perlu mengkritisi peran orangtua para pelaku sebagai pengasuh utama anak-anak mereka. Apa saja yang sudah dilakukan orangtua-orangtua ini hingga anaknya bisa mencuri, melecehkan, kecanduan, pornografi, kecanduan narkoba, memerkosa, bahkan membunuh orang lain?

Fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini akibat beberapa hal, yaitu :
  1. Para orangtua tidak siap dan tidak pandai dalam mengemban amanah sebagai orangtua. Masih banyak orangtua yang enggan, bahkan cenderung kurang peduli dalam membangun komunikasi yang baik dan menyenangkan dengan anak-anak mereka. Yang terjadi akhirnya, anak mencari perhatian dan kenyamanan diluar rumah.
  2. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan dirumah, Kenakalan anak-anak dan remaja yang terjadi di masyarakat kebanyakan dilakukan oleh anak laki-laki, Mangapa? Karena anak laki-laki tidak mendapatkan role model atau teladan dari para ayah mereka dirumah. Anak laki-laki tidak dijadikan prioritas untuk dididik sebagai anak yang memiliki rasa tanggung jawab dan dididik sebagai orang yang kelak akan menjadi kepala orang tua.
  3. Kurangnya intropeksi para orangtua terhadap diri sendiri. Andai setiap orangtua mau sejenak merenung mengenai peran dan tanggungjawab serta mampu menganalisa kekurangan dirinya sendiri, tentulah komunikasi pengasuhan anak yang baik dan benar akan diutamakan menjadi prioritas.
  4. Kurangnya kesadaran dan pemahaman bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus kita besarkan, asuh, dan didik dengan benar serta baik sesuai agama maupun keyakinan kita masing-masing. Dan kelak, setiap orangtua harus mempetanggungjawabkan hal ini pada Sang Pencipta.       

Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Jangan Salahkan Anak
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/09/jangan-salahkan-anak_5.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 comments:

Connexindo said...

dan juga harus bersyukur dengan amanah yg telah di berikan allah pada kita, tidak semua org mendapat kan titipan terbesar dari allah ini ;)

Post a Comment