Sosok Pemimpin Sederhana

Posted by tri novi handono Sunday, August 25, 2013 0 comments


 


     Memberikan teladan yang baik merupakan keharusan bagi seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi rakyatnya. Seperti yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab, meskipun  harta kekayaannya melimpah, namun gaya hidupnya sangat sederhana. Dalam memandang harta, ia tak tergiur sedikitpun untuk mengambil hak orang lain. Jangankan korupsi, mengambil haknya sendiri ia enggan. Ia menggunakan hartanya untuk keperluan umat dan dakwah. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan hampir tak pernah makan kenyang demi menjaga perasaan rakyatnya, Padahal, Umar adalah orang yang sangat kaya, namun beliau telah menunjukkan sosok pemimpin sederhana.

     Pernah suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur,"Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu? Dengan gugup, sang gubernur menjawab, " Tentu tidak, wahai Amirul Mukminin. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas berdiri dan bersuara keras, " Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar Bin Khattab, seorang kepala negara yang zuhud.

     Di lain kesempatan, pernah beberapa sahabat ra, di antaranya Ali, Utsman, Zubair, dan Thaihah dalam suatu majelis membicarakan usulan agar tunjangan Khalifah Umar bin Khattab ditambah, karena sepertinya tunjangan itu terlalu kecil. Mereka sepakat untuk merundingkannya dengan Umar dan meminta kepadanya agar dia menaikkan gaji serta tunjangannya. Namun para sahabat mengurungkan niatnya, sebab mereka sama-sama mengetahui bahwa Umar bin Khattab adalah seorang yang amat  keras dan mudah naik darah. Akhirnya, mereka bersepakat untuk meminta bantuan Hafshah, salah seorang istri Nabi SAW,  yang tidak lain adalah putri Khalifah Umar ra.

     Ummul Mukminin Hafshah kemudian menyampaikan usul tersebut kepada ayahnya, Umar ra. Mendengar itu, Khalifah Umar ra. bukannya senang, ia malah tampak marah. Beliau berkata, " Siapa yang telah mengutusmu untuk mengajukan usulan itu. Seandainya aku tahu nama-nama mereka, aku akan memukul wajah-wajah mereka!" Khalifah Umar ra. kemudian berkata, "sekarang ceritakan kepadaku pakaian Nabi SAW yang paling baik yang ada dirumahmu."
"Beliau memiliki sepasang pakaian berwarna merah yang dipakai setiap hari Jum'at dan ketika menerima tamu," Jawab Hafshah. Umar bertanya lagi, " Makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah SAW dirumahmu?"
"Roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan kedalam minyak," Jawab Hafshah, " Alas tidur apa yang paling baik yang pernah digunakan Rasullullah SAW dirumahmu?" tanya Umar lagi. "Sehelai kain, yang pada musim panas dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua, separuh untuk alas tidurnya dan separuh lagi untuk selimut," jawab Hafshah lagi.
Khalifah Umar ra. lalu berkata, "Sekarang, pergilah. Kat  akan kepada mereka, Rasulullah SAW telah mencontohkan pola hidup sederhana, merasa cukup dengan apa yang ada demi meraih kebahagiaan akhirat. Aku tentu akan mengikuti teladan beliau .....".
 
     Demikianlah sikap Umar bin Khattab ketika dihadapkan pada harta yang melimpah. Ia tetap dalam sosok pemimpin yang sederhana. Ketika wafat, Umar Bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp. 160 juta dalam prediksi konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar bin Khattab meninggalkan warisan sebanyak Rp. 11,2 triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat ini menghasilkan Rp. 49 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp. 2,8 triliun setiap tahun, atau 233 miliar sebulan.
Harta kekayaannya ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak hnysedikitpun ia menyombongkan diri dan mempergunakan untuk bermewah-mewahan dan berlebihan. Hingga menjelang akhir kepemimpinan Umar, Usman bin Affan pernah mengatakan, "Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun Khalifah penggantimu Kelak."


Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sosok Pemimpin Sederhana
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/08/sosok-pemimpin-sederhana.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment