Ikhwal Seputar Manajemen

Posted by tri novi handono Wednesday, March 20, 2013 1 comments
rapat
Ikhwal manajemen secara umum telah saudara maklumi dan pahami, kini layak pulalah kita mengkaji ikhwal-ikhwal yang terselip di dalam manajemen itu. Ibarat benang sutera yang indah kalau diurai, manajemenpun dapat pula diuraikan secara indah.
Tatkala menilik pada petuah Prof. Oei Liang Lie ternyata terselip ikhwal yang perlu diperjelas, ikhwal-ikhwal apakah itu?

Yang jadi perkara dalam soal ini adalah tentang alat yang dipakai seorang bos untuk meraih tujuan yang sudah ditentukan itu. Wajib anda ingat bahwa setiap orang yang berusaha pasti memanfaatkan alam, modal dan tenaga kerja untuk mencapai tujuannya.

Hutan-hutan angker keramat, tempat bersemayam setan jembalang dibabat dengan jampi modernisasi sehingga menjadi tanah pertanian yang subur, kekayaan alam yang tersuruk diperlukan bumi, kini dikeruk oelh raksasa-raksasa besi hasil teknologi modern dan diolah oleh manusia-manusia modern. Apalagi ? Modal kaliber raksasa maupun bukan, disiram untuk membiayai proyek agar berjalan sesuai dengan rencana. Teknologi modern diunfang untuk meramaikan arus modernisasi dalam ikhwal berusaha.

Semua bersibuk-sibuk diri, sambil berdoa komat-kamit, agar dewi fortuna sudi singgah kepada orang yang punya kerja. Selepas mengerjakan ikhwal diatas, saudara belum boleh bersantai-santai, karena faktor alam dan modal saja belum cukup afdol untuk mencapai tujuan anda dalam manajemen. Hutan-hutan di Irian dan intan-intan di perut bumi Afrika tak ada artinya kalau belum diolah oelh tangan makhluk yang bernama manusia.

Bagaimana kalau saudara punya modal saja? ini juga masih belum cukup karena, biarpun saudara mempunyai duit bergudang-gudang, namun tak ada manfaatnya jika saudara simpan di dalam lemari atau dibawah kasur. Demikian pula kalau saudara punya segerobak modal, tetapi beban yang akan diolah tidak ada, tentu anda akan kewalahan bukan?

Tatkala modal dan sumber-sumber alam telah diperoleh, apakah ada! Yaitu soal manusisa yang pintar mengolah alam, mempergunakan dan memanfaatkan modal itu. Disebabkan karena manusia bukan benda mati, melainkan benda hidup yang punya nyawa, pemikiran, akal, kehendak, perasaan, tentu saja ikhwal ini perlu anda maklumi.
Justru itulah, para sarjana menganggap bahwa ikhwal manusia adalah merupakan faktor yang menentukan sekali yang dapat menggerakkan faktor alam dan modal tersebut.

Bayangkan dengan tenaga dan akal manusia, gunung besar dapat diratakan, Hutan-hutan lebat dibabat habis atau dasar laut dapat dikuras hasilnya. Demikian pula traktor segede gajah bengkak. dapat berjalan menyodok tanah, Kapal induk gergaji seenaknya berlayar dilaut lepas menggendong segudang pesawat tempur. Yang hebatnya benda-benda ini semua digerakkan oleh tenaga kerja yang bernama manusia.     

Kutu di Kepala Pragawati
Manakala segalanya sudah berjalan lancar, bukan berarti semuanya itu dapat dihasilkan oleh sembarang manusia. Perkara mengerjakan sesuatu, setiap orang pasti sanggup, asal koceknya terisi selalu. Tetapi untuk menjadi seorang manusia yang pintar mengatur dan menggerakkan manusia lainnya, wah ini namanya seperti mencari kutu di kepala pragawati.
Coba bayangkan apa yang terjadi ! sumber alam sudah ready for use, modal telah ditumpuk di meja tinggal pakai untuk satu proyek. Tenaga pekerja sudah tidak sabar menanti untuk diberangkatkan. Apakah ini sudah beres? ternyata belum lagi ! Walaupun semuanya sudah disiapkan namun kalau tidak ada manusia yang pintar mengatur dan menggerakkannya, pasti akan berantakan.

Disinilah perlu diundang manusia yang memegang jampi-jampi luhur dunia modern yaitu manajemen. Dengan senjata ampuh ini, sang manusia itu pergi ke medan juang, lalu mengolah tenaga alam agar bermanfaat, mengkomandoi modal yang ada agar tidak boros. Agar selamat badan sampai seberang,sang manusia harus berjalan hati-hati, ibarat resi yang penyabar.

Namun pada suatu waktu sang manusia harus dapat menjadi "harimau" yang ganas, tatkala bertemu dengan manusia-manusia yang handal. Suka atau tidak, anda harus pintar melaksanakan tugas, agar niat-niat yang telah dipasang dapat mencapai sasarannya.

Ikhwal ini teramat perlu digunjingkan, karena setiap rencana yang bagaimanapun dahsyatnya, kalau tak disertai dengan suatu tujuan pasti tidak seronok rasanya. Mau contoh soal ? Ada suatu proyek dengan rencana yang disusun via segala raker, konker, musbes seminar dan sebagainya. Segala sesuatunya telah matang dan manusia yang akan mengerjakan rencana itu telah ada, tinggal pakai.

Begitulah, pada mulanya pekerjaan berjalan mulus dan amat teratur sekali, namun anehnya lama kelamaan pekerjaan tersebut tak pernah siap dan selesai. Laksana arang habis, besi binasa, ternyata pekerjaan tersebut sia-sia belaka. Modal ludes dihirup proyek, tenaga ringsek kecapaian karena lesu darah danhasilnya tak menentu. Ha, kenapa bisa begini ! Ikhwal ini disebabkan karena pimpinan proyek hanya tahu merencanakan tetapi tidak menentukan apakah tujuan rencan itu. Fikirnya, perkara menentukan tujuan pekerjaan, bisa saja ditetapkan sewaktu pekerjaan sedang berlangsung. Nah akibatnya sang kepala atau manager jadi kacau balau pikirannya dan pekerjaan jadi berantakan.

Agar nasi tidak menjadi bubur, sebelum melaksanakan pekerjaan, sang kepala membuat rencana yang matang. Terus ditetapkan lebih dulu apa sebenarnya tujuan yang diidam-idamkan oelh sang kepala dari hasil pekerjaan itu.

Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ikhwal Seputar Manajemen
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/03/ikhwal-seputar-manajemen.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 comments:

kompaca.com said...

hadir+silaturahmi dan ikut nyimak

Post a Comment