Perasaan Bersalah dan Sikap Menolak

Posted by tri novi handono Friday, March 8, 2013 0 comments

     Jika kita terus menerus dicela dan ditolak karena tidak dapat memenuhi harapan orang tua, atau jika kita harus menanggung beban emosional yang terlalu berat, maka kita akan terbentuk menjadi orang yang selalu saja merasa tidak disetujui atau kurang berbobot. Bila tidak dicintai dan dihargai oleh orang tua kita, bagaimana kita dapat mencintai dan menghargai diri kita sendiri? Dan jika tidak dapat mencintai serta menghargai diri sendiri, bagaimana kita dapat mencintai dan menghargai orang lain secara tulus? "cintai" kita akan selalu berpamrih kerinduan untuk diterima yang pada gilirannya menyebabkan kecemasan.

     Rendahnya harga diri ini akan menyebabkan perasaan bersalah yang menyeluruh. Bukan karena pada kenyataannya kita telah melakukan suatu kesalahan, tetapi karena ada suatu suasana langgeng di mana kita merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang bermutu. Ini bukanlah kesalahan dalam arti sesungguhnya, tetapi suatu perasaan tidak tentram dalam diri kita yang memaksa kita harus menentramkan orang lain sepanjang waktu dan memaafkan diri kita terus menerus. Kita tidak pernah merasa yakin bahwa kita telah bekerja cukup baik untuk mendapatkan persetujuan. Kita berusaha menjadi orang yang dibutuhkan, terus menerus memberikan perhatian pada orang banyak dan berbuat baik untuk meyakinkan bahwa kita dapat diterima. Mengenai diri kita sendiri, kita diliputi keraguan yang mengerikan berkaitan dengan nilai diri kita.

     Cara hidup seperti ini sangat tidak memuaskan, Kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan berarti bahwa kita tidak pernah dapat menjadi diri sendiri. kita harus selalu berusaha mencocok diri kita dengan gambaran orang lain tentang kita seperti yang kita inginkan.nya "cinta" dari orang lain membuat kita merasa sangat cemas.

     Relasi-relasi yang didasarkan pada kebutuhan untuk dibutuhkan senantiasa menjadi jebakan. Relasi seperti ini tidak didasarkan pada cinta dan kepercayaan, oleh karenanya menjadi relasi bersyarat. "ah. tetapi setiap orang merasa butuh untuk dibutuhkan,"kata orang, "itu wajar saja. "bukan begitu. Jikahal itu kita pertahankan sebagai cara untuk mendapatkan harga diri dan peneguhan maka kita berada dalam perbudakkan. Meskipun demikian, jika kita sepanjang waktu meletakkan diri kita pada posisi dibutuhkan dan setelah itu dapat membebaskan diri lagi, persoalannya menjadi lain.

     Apabila kita dikuasai rasa bersalah yang tidak tepat, biasanya kita tidak mudah mengampuni diri sendiri. Meskipun pada kenyataannya orang lain menerim, mencintai dan memaafkan kita, kita akan terus merasa buruk di dalam diri kita. Kelihatannya tidak masuk akal, dan kita menyadarinya, tetapi itulah yang terjadi.

     Dengan kesadaran seperti ini, seharusnya kita mulai mencari sebab-sebabnya dalam hidup batin kita. Kemungkinan besar kita akan menemukan sang anak dalam diri kita yang menanggung semua gejala rendahnya harga diri. kita tidak dapat menerima diri sendiri karena sebagai anak-anak kita tidak merasa diterima secara wajar, kata-kata peneguhan, sekarang ini sudah tidak ada pengaruhnya lagi. Kita akan memproyeksikan pada orang lain anggapan-anggapan batin kita: "menurut saya, saya buruj, maka mereka pasti juga berfikir bahwa saya buruk".

     Jika kita diminta menjelaskan siapa Tuhan, kemungkinan besar kita akan menggambarkan seorang tiran yang kaku, monster sadis yang menuntut kita untuk memperhatikan semua rincian tentang apa yang benar dan salah. Teman-teman kita harus memberi banyak waktu dan perhatian penuh cinta dan membutuhkan "campur tangan inkarnasi" untuk membantu agar kita dapat mempercayai cinta mereka, dan tahap demi tahap menerima Tuhan sebagai pribadi yang pantas kita percaya, penuh belas kasih, kehangatan, kebijaksanaan dan cinta. Kemudian kita akan lebih mampu mengampuni diri kita sendiri.

     Tentu saja ada perbuatan yang pada kenyataannya memang salah. Kita bertanggung jawab atas sesuatu yang kita lakukan sengan bebas, padahal seharusnya tidak kita lakukan. Kita harus bertanggung jawabdan sedapat mungkin berubah. penyembuhan tidak akan terjadi sampai kita mengakui, menerima dan memaafkan pelanggaran itu. Pengampunan yang diberikan sebelum kita benar-benar menyesal hanya dapat memperkeras sikap-sikap kita. Oleh karenanya ada kesalahan tambahan jika kita menerima pengampunan yang belum berhak kita dapatkan. Topi seorang anak yang secara sengaja telah memecahkan sebuah pajangan berharga dan kemudian merengek minta ampun bukanlah suatu pengampunan. Pengampunan berarti mengakui apa yang bersalah tetapi tidak membiarkan hal itu menghancurkan relasi. Pada kenyataannya keretakan ini dapat dipakai untuk memperdalam sebuah relasi.


Semoga Bermanfaat 
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Perasaan Bersalah dan Sikap Menolak
Ditulis oleh tri novi handono
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://noviarema.blogspot.com/2013/03/perasaan-bersalah-dan-sikap-menolak.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment